0


Seorang bapak paruh baya suatu saat bertutur, “Ya Allah, aku memohon izin kepada Engkau, hendak menggunakan akal-pikiran dan tubuhku hari ini untuk bekerja mencari nafkah yang halal demi memenuhi kebutuhan keluargaku.”
Mungkin kedengarannya aneh. Namun, demikianlah kata-kata itu hampir setiap pagi ia lafalkan sebelum berangkat ke tempatnya bekerja.
Ketika ia ditanya, sebegitu pentingkah memohon izin kepada Allah SWT untuk sekadar berangkat kerja? Ia menjawab, “Nak, kita sering mengklaim, harta kita milik Allah; istri dan anak-anak kita milik Allah; tubuh dan jiwa kita pun milik Allah; semua milik Allah. Jadi, apa salahnya kita memohon izin dan ridha Allah saat kita memanfaatkan semua itu? Toh, semuanya memang milik-Nya yang kebetulan Dia titipkan kepada kita,” jawabnya serius, tanpa sedikitpun menyiratkan kepura-puraan.
“Ya, tapi bukankah Allah SWT memang telah menganugerahkan semua yang ada di dunia ini untuk kita, manusia?” kembali ia ditanya.
“Betul, tidak salah. Tapi, itu bukan berarti tanpa syarat. Seperti seseorang yang meminjamkan kendaraannya kepada kita untuk berbelanja, misalnya, tentu tak pantas kendaraan itu kita pakai untuk merampok. Engkau mengerti, kan?” katanya balik bertanya.
“Demikian pula dengan kita. Allah SWT menganugerahkan akal-pikiran dan tubuh kita untuk beribadah kepada Diri-Nya. Allah SWT menyediakan segala karunia-Nya di dunia ini, juga untuk bekal manusia mengabdi kepada Diri-Nya. Masalahnya, apakah semua yang Allah ‘pinjamkan’ kepada kita itu benar-benar telah dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya itu? Ataukah semua yang hakikatnya milik Allah itu malah kita gunakan untuk bermaksiat dan melanggar perintah-Nya? Sudahkah mata yang Allah titipkan kepada kita, misalnya, benar-benar hanya digunakan untuk melihat yang halal; atau seringnya malah digunakan untuk melihat hal-hal yang haram? Sudahkah lisan kita digunakan hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang bermanfaat serta mengandung hikmah dan nilai dakwah; atau seringnya malah untuk mengucapkan kata-kata yang sia-sia tak berguna?”
*****
Di lain waktu, seorang kiai sepuh yang amat wara’ dan zuhud di suatu daerah terpencil pernah ditanya oleh seorang anak muda, mengapa ia tidak pernah berniat menambah koleksi pakaiannya yang hanya beberapa potong saja di rumahnya, tak lebih dari 3-5 potong pakaian saja? Sang kiai sepuh menjawab, “Nak, yang lima potong saja sebagiannya masih sering tergantung begitu saja, jarang dipakai. Saya sering khawatir seandainya nanti hal itu ditanyakan oleh Allah SWT di akhirat nanti. Saya khawatir ditanya, ‘Kamu telah Aku beri nikmat, mengapa tak kamu syukuri; mengapa kamu sia-siakan?’”
Terkait kisah di atas, Allah SWT berfirman: Kemudian pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang nikmat itu (TQS at-Takatsur [102]: 8).
Ayat ini tentu sering kita baca atau kita dengar. Namun, entah mengapa, saat ayat itu dibacakan kembali oleh guru saya, Al-Mukarram KH Hafidz Abdurrahman, dalam suatu kesempatan halaqah, saya tersentak dan tersadar. Saat itu, beliau menceritakan, bahwa Baginda Rasulullah saw. itu sering dilanda rasa lapar karena seringnya beliau tidak mendapati makanan di rumahnya. Saat tak punya makanan di rumahnya, beliau pun berpuasa. Beliau tidak sedih atau galau karena ‘musibah’ rasa lapar itu. Lalu pada saat ada sahabat yang mengirim kurma kepada beliau, bukannya bergembira. beliau malah kelihatan sedih dan galau, seraya mengingatkan kembali ayat di atas.
Begitulah sikap Rasulullah saw. saat mendapatkan nikmat. Mengapa? Karena terkait nikmat yang Allah berikan kepada manusia, sekecil apapun, akan dimintai pertanggung-jawaban. Nikmat yang dimaksud tentu saja adalah seluruh kelezatan dunia (Lihat: As-Suyuthi, Durr al-Mantsur, X/337).
Sebaliknya, Allah SWT tidak akan meminta pertanggungjawaban atas musibah yang Dia timpakan kepada manusia. Karena itu, Baginda Rasulullah saw. tidak bersedih karena suatu musibah yang menimpa.
Namun, kita memang jauh berbeda dengan Baginda Rasulullah saw. Kita sering amat sedih saat kenikmatan lepas dari diri kita dan terlalu bergembira saat kenikmatan itu menghampiri kita; lupa jika dengan kenikmatan itu kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti.
*****

Terkait dengan nikmat pula, kita tentu sering diingatkan dengan sebuah sabda Baginda Rasulullah saw. sebagaimana dituturkan oleh Ibn Mas’ud ra., “Kaki anak Adam tidak akan bergeser di hadapan Rabb-nya pada Hari Kiamat nanti sebelum ditanya tentang lima perkara (yaitu): umurnya, bagaimana ia lalui; masa mudanya, bagaimana ia habiskan; hartanya darimana ia dapatkan dan bagaimana ia belanjakan; serta tentang apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang ia miliki.” (HR at-Tirmidzi).
Dalam hadis lain penuturan Ibn Abbas disebutkan bahwa Baginda Rasulullah saw. pun pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu: nikmat sehat dan waktu luang.” (HR al-Bukhari).
Padahal, terkait nikmat kesehatan dan waktu luang, kita pun akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban: sejauh mana kesehatan dan waktu luang itu kita manfaatkan; apakah untuk kebaikan atau keburukan; apakah untuk memperbanyak amal salih atau amal salah; apakah untuk memperbanyak amal dakwah atau melulu untuk urusan ma’isyah; dst.
Bagaimana dengan nikmat harta? Terkait sedikitnya harta kita, ia tetap akan dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawaban: darimana dan untuk apa? Apalagi jika harta kita berlimpah-ruah, tentu akan lebih banyak lagi pertanyaan Allah SWT kepada kita pada Hari Akhir kelak. Itulah mengapa, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda tentang Abdurrahman bin Auf ra., seorang sahabat yang kaya-raya, “Nanti Abdurrahman bin Auf (karena hartanya yang banyak, pen.) akan masuk surga dalam keadaan merangkak.”
Mendengar sabda Baginda Rasulullah saw. demikian, seketika Abdurrahman bin Auf ra. pun menyedekahkan seluruh hartanya (termasuk emas dan perak) yang diangkut dengan 700 ekor unta (berikut seluruh untanya itu). Padahal harta itu baru saja tiba di Madinah sebagai hasil berbulan-bulan ia berbisnis di luar Kota Madinah. Ia melakukan itu tidak lain karena sangat khawatir atas lamanya penghisaban Allah SWT atas dirinya di akhirat kelak karena hartanya yang melimpah itu.
Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib. [Arief B. Iskandar]


Dikirim pada 10 Juli 2012 di Curhat



Pak Ustad, saat ini sedang ribut ada film yang pesan ceritanya menunjukkan "murtad sebagai hal biasa�. Sebenarnya apa sih hukum murtad dalam Islam?
Wass, Sholihah

Jawab :
Bismillah,
Allah menyitir dalam al-Quran yang artinya:
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.“ (QS Al Baqarah: 217 )

Pengertian Murtad (riddah):

Riddah secara bahasa adalah kembali ke belakang, sebagaimana firman Allah swt :

Dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS Al Maidah : 21 )

Adapun pengertian Riddah secara syar’I para ulama berbeda di dalam mendefinisikannya, diantaranya sebagai berikut :

Berkata Al Kasani ( w : 587 H ) dari madzhab Hanafi :

Riddah adalah mengucapkan kata-kata kekafiran setelah dia beriman.“ (Bada’I Shonai’ : 7/134 )

Berkata : As Showi ( w : 1241 H ) dari madzhab Maliki :

Riddah adalah seorang Muslim yang kembali menjadi kafir dengan perkataan yang terang-terangan, atau perkataan yang membawa kepada kekafiran, atau perbuatan yang mengandung kekafiran.“ ( Asyh As Shoghir : 6/144 )

Berkata Imam Nawawi ( w : 676 H ) dari madzhab Syafi’i :

Riddah adalah memutus Islam dengan niat atau perkataan, atau dengan perbuatan, baik dengan mengatakan hal tersebut karena mengolok-ngolok, atau karena ngeyel, atau karena keyakinannya.“ (Minhaj ath-Thalibin : 293)

Berkata Al Bahuti dari madzhab Hambali :

“Al Murtad secara syar’I yaitu seseorang yang kafir sesudah Islam, baik dengan perkataan, keyakinan, keragu-raguan, ataupun dengan perbuatan.“ (Kasyaf a Qina’ : 6/136 )

Dari beberapa pengertian di atas bisa disimpulkan bahwa Riddah adalah :

“Kembalinya seorang Muslim yang berakal dan baligh menjadi kafir kembali dengan penuh kesadaran tanpa ada paksaan dari seseorang, baik itu melalui keyakinan, perkataan, maupun perbuatannya. “


Macam-macam Riddah:

Jika kita mengambil pengertian Iman dari para ulama salaf yang menyebutkan bahwa Iman mencakup perkataan dan perbuatan, maksudnya adalah perkataan hati dan anggota badan, serta perbuatan hati dan badan. Maka Riddah pun demikian mencakup empat hal sebagaimana dalam keimanan. Keterangannya sebagai berikut:

Pertama: Riddah dengan perkataan hati; seperti mendustakan firman-firman Allah, atau menyakini bahwa ada pencipta selain Allah swt.

Kedua: Riddah dengan perbuatan hati, seperti : membenci Allah dan Rasul-Nya, atau sombong terhadap perintah Allah. Seperti yang dilakukan oleh Iblis ketika tidak mau melaksankan perintah Allah swt untuk sujud kepada Adam, karena kesombongannya.

Ketiga: Riddah dengan lisan : seperti mencaci maki Allah dan Rasul-Nya, atau mengolok-ngolok ajaran Islam.

Keempat: Riddah dengan perbuatan : sujud di depan berhala, menginjak mushaf.

Seorang Muslim menjadi murtad, jika melakukan empat hal tersebut sekaligus, ataupun hanya melakukan salah satu dari keempat tersebut.

Kapan Seorang Muslim dikatakan Murtad?

Jika dilakukan atas kehendaknya dan kesadarannya. Adapun jika dipaksa maka tidak termasuk dalam katagori murtad. Sebagaimana firman Allah swt :

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” ( Qs An Nahl : 106 )

Bagaimana dengan rasa was-was ?

Adapun rasa was-was yang ada di dalam hati, maka itu tidak mempengaruhi keimanan seseorang selama dia berusaha untuk mengusirnya. Kita dapatkan para sahabat pernah merasakan seperti itu juga, sebagaimana dalam hadist Abdullah bin Mas’ud ra, bahwasanya ia berkata :

"Nabi saw pernah ditanya mengenai perasaan waswas, maka beliau menjawab: \�Itu adalah tanda keimanan yang murni (benar)." ( HR Muslim )

Hal ini dikuatkan dengan hadist Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah sw :

"Manusia senantiasa bertanya-tanya hingga ditanyakan, �Ini, Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah�, maka barangsiapa mendapatkan sesuatu dari hal tersebut, maka hendaklah dia berkata, �Aku beriman kepada Allah."( HR Muslim )

Hukum Murtad

Orang yang murtad boleh dibunuh dan halal darahnya. Jika telah dijatuhi hukuman mati, maka tidak dimandikan dan disholatkan serta tidak dikuburqan di kuburan orang-orang Islam, tidak mewarisi dan tidak diwarisi. Tetapi hartanya diambil dan disimpan di Baitul Mal kaum Muslimin.

Dalilnya adalah Abdullah bin Mas’ud ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :

“Tidak halal darah seorang Muslim yang telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah, kecuali dari tiga orang berikut ini; seseorang yang murtad dari Islam dan meninggalkan jama\�ah, orang yang telah menikah tapi berzina dan seseorang yang membunuh orang lain.\" ( HR Muslim )

Ini dikuatkan dengan hadits Ikrimah, bahwasanya ia berkata :

“Beberapa orang Zindiq diringkus dan dihadapkan kepada Ali ra, lalu Ali membakar mereka. Kasus ini terdengar oleh Ibnu Abbas, sehingga ia berkata : Kalau aku, tak akan membakar mereka karena ada larangan Rasulullah saw yang bersabda: "Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah, " dan aku tetap akan membunuh mereka sesuai sabda Rasulullah saw : "Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah!" (HR Bukhari )

Dikuatkan juga dengan hadist Mu’adz bin Jabal :
“Suatu kali Mu�adz mengunjungi Abu Musa, tak tahunya ada seorang laki-laki yang diikat. Mu�adz bertanya; "Siapa laki-laki ini sebenarnya? Abu Musa menjawab "Dia seorang yahudi yang masuk Islam, kemudian murtad. Maka Mu�adz menjawab; "Kalau aku, sungguh akan kupenggal tengkuknya." ( HR Bukhari )

Jika seseorang murtad, maka dia harus dipisahkan dari istrinya pada waktu itu juga. Imam as-Sarakhsi al-Hanafi (w 483 H) berkata : “Seorang Muslim apa bila ia murtad, maka istrinya harus dipisahkan darinya. Baik istrinya tersebut seorang Muslimah ataupun seorang ahli ktab, baik istrinya tersebut telah digauli atau belum”. ( al-Mabsuth : 5/49 )

Apakah Diberi Waktu Untuk Bertaubat ?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, tetapi mayoritas ulama mengatakan harus diberi waktu untuk taubat. Karena orang murtad kadang ada syubhat yang ada pada dirinya mengenai Islam, sehingga dia murtad, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu. Jika diberi waktu untuk taubat, dan dia tidak bertaubat, maka boleh dibunuh.

Sebagian ulama mengatakan waktu taubat adalah tiga hari, sebagian yang lain mengatakan tidak harus tiga hari, tetapi tawaran untuk bertaubat hendaknya terus dilakukan, jika tidak ada harapan untuk taubat, maka boleh dibunuh.

Taubat Orang Murtad

Orang yang sudah murtad, jika bertaubat, apakah taubatnya diterima ? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dijelaskan bahwa orang yang murtad terkena hukum dunia dan akherat. Adapun rinciannya sebagai berikut :

Pertama : Hukum di Akherat

Untuk hukum di akherat, pada dasarnya Allah swt akan menerima setiap hamba-Nya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, ini sesuai dengan firman Allah swt :

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu ." ( Qs Al Anfal : 38 )

Hal ini dikuatkan dengan hadits Amru bin Ash, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepadanya :

" Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam telah menghapuskan dosa yang telah terdahulu, dan bahwa hijrah juga menghapuskan dosa yang terdahulu, dan haji juga menghapuskan dosa yang terdahulu. “ ( HR Muslim )

Ayat dan hadist di atas menunjukkan orang-orang kafir asli yang bertaubat dan masuk Islam, maka Allah akan menerima taubat mereka, dan seluruh dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah swt. Mereka tidak diwajibkan menggantikan kewajiban yang mereka tinggalkan selama ini, seperti sholat dan puasa. Adapun hal-hal yang berhubungan dengan hak manusia, seperti harta curian, maka harus dikembalikan kepada yang berhak. Dalilnya adalah hadist Mughirah bin Syu’bah :

“Dahulu Al Mughirah di masa jahiliyah pernah menemani suatu kaum, lalu dia membunuh dan mengambil harta mereka. Kemudian dia datang dan masuk Islam. Maka Nabi saw berkata saat itu: "Adapun keIslaman maka aku terima. Sedangkan mengenai harta, aku tidak ada sangkut pautnya sedikitpun" (HR Bukhari No : 2529)

Adapun orang yang murtad, jika bertaubat, maka taubatnya diterima dan dia harus menggantikan ibadah-ibadah yang dia tinggalkan selama ini, seperti sholat dan puasa. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik mengatakan jika dia taubat, maka dia harus haji kembali seakan-akan dia baru masuk Islam. Adapun Imam Syafi’I berpendapat bahwa jika dia bertaubat tidak ada kewajiban mengulangi hajinya kembali.

Diantara dalil yang menunjukkan diterimanya taubat orang yang murtad adalah firman Allah swt :

“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la\�nat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la\�nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Qs Ali Imran : 86-89 )


Bagaimana penafsiran ayat –ayat yang menunjukan bahwa orang yang murtad itu tidak diterima taubatnya ?, sebagaimana di dalam firman Allah swt :

“Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” ( Qs Ali Imran : 90-91 )

Begitu juga di dalam firman Allah swt :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” ( Qs Ali Imran : 137 )

Maka jawabannya bahwa yang dimaksud ayat di atas adalah orang yang murtad, kemudian tidak mau bertaubat , bahkan bertambah kekafirannya, maka Alah tidak akan menerima taubatnya sesudah mati.

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya ( 1/ 753 ) : “ Allah swt menyebutkan bahwa orang yang sudah beriman kemudian murtad, kemudian beriman lagi, kemudian murtad lagi dan terus menerus dalam kemurtadan, sampai mati, maka tidak ada taubah sesudah kematiaanya, dan Allah tidak mengampuninya “.

Kemudian beliau menukil perkataan Ibnu Abbas tentang bunyi ayat di atas :+E �2/�/H� CA1�, maksudnya adalah: “ masih di dalam kekafirannya sampai mati “. Begitu juga pendapat Mujahid.

Ibnu Taimiyah di dalam Majmu al Fatawa ( 16/28-29 ) menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak diterima taubat mereka pada ayat di atas adalah kemungkinan karena mereka orang-orang munafik, atau karena mereka bertaubat tapi masih melakukan perbuatan syirik, atau amalan mereka tidak diterima setelah mereka mati. Sedangkan mayoritas ulama seperti Hasan Basri, Qatadah dan Atho’, serta As Sudy mengatakan bahwa taubat mereka tidak akan diterima, karena mereka bertaubat dalam keaadan sakaratul maut. Ini sesuai dengan firman Allah swt :

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : \"Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.\" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” ( Qs An-Nisa’ : 18 )

Kedua : Hukum di Dunia :

Untuk hukum di dunia para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan status hukum orang murtad yang sudah bertaubat.

Pendapat Pertama : Jika seorang yang beriman kemudian kemudian murtad, dan kembali ke Islam kemudian murtad kembali dan hal itu terulang berkali-kali, maka taubatnya tidak diterima oleh pemerintahan Islam, dan dia terkena hukuman mati.

Pendapat Kedua : Jika seorang yang beriman kemudian murtad dan hal itu terulang-ulang terus, maka taubatnya tetap diterima oleh pemerintahan Islam dan dia dianggap Muslim lagi dan boleh hidup bersama-sama orang-orang Islam yang lain, serta berlaku hukum-hukum Islam terhadapnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu pendapat Hanafiyah, masyhur dari Malikiyah, Syafi’iyah dan salah satu pendapat imam Ahmad . ( lihat Tabyin al Haqaiq 3/284, Tuhfatul Muhtaj : 9/96, Kasya’ qina’ : 6/177-178 )

Dalm masalah ini, Ibnu Taimiyah membagi Riddah menjadi dua, yaitu Riddah Mujaradah ( murtad ringan ), kalau dia bertaubat, maka hukuman mati menjadi gugur darinya. Yang kedua adalah Riddah Mugholladhah ( murtad berat ), dia tetap dihukum mati walaupun sudah bertaubat ( Shorim Maslul : 3/ 696 )

Berkata Ibnu Qudamah di dalam al Mughni ( 12/271 ) : “ Kesimpulannya, bahwa perbedaan para ulama hanyalah di seputar diterimanya taubat orang yang murtad secara lahir di dunia ini, begitu juga gugurnya hukuman mati dan berlakunya hukum-hukum Islam baginya. Adapun diterimanya taubatnya oleh Allah secara batin, dan diampuninya orang yang bertaubat secara lahir dan batin, maka para ulama tidak berselish pendapat dalam masalah-masalah tersebut. “
.

Sebab-sebab terjadinya Riddah

1. Kebodohan.

Kebodohan menjadi penyebab utama adanya gelombang pemurtadan, karena mereka tidak dibentengi dengan ilmu. Oleh karena itu salah satu cara yang efektif untuk mmengantisapi pemurtadan adalah dengan menyebarkan aqidah dan ilmu yag benar di kalangan masyarakat.

Syekh al-Bakri ad-Dimyathi (w 1310 H) berkata: “Ketahuilah bahwa banyak orang-orang awam yang mengucapkan kata-kata kufur tanpa mereka sadari, bahwa sebenarnya hal itu adalah bentuk kekufuran. Maka wajib atas bagi orang yang berilmu untuk menjelaskan kepada mereka mereka hal-hal yang menyebabkan kekafiran tersebut, supaya mereka mengetahuinya, kemudian bisa menghindarinya. Dengan demikian maka amalan mereka tidak menjadi sia-sia, dan tidak kekal di dalam neraka (bersama orang-orang kafir) dalam siksaan besar dan adzab yang sangat pedih.

Sesungguhnya mengenal masalah-masalah kufur itu adalah perkara yang sangat penting, karena seorang yang tidak mengetahui keburukan maka sadar atau tidak, ia pasti akan terjatuh di dalamnya. Dan sungguh setiap keburukan itu sebab utamanya adalah kebodohan dan setiap kebaikan itu sebab utamanya adalah ilmu, maka ilmu adalah petunjuk yang sangat nyata terhadap segala kebaikan, dan kebodohan adalah seburuk-buruknya teman (untuk kita hindari)”. ( I’anah ath-Thalibin: 4/133)

2. Kemiskinan.

Pemurtadan seringkali terjadi pada daerah-daerah miskin dan terkena bencana. Banyak kaum Muslimin yang mengorbankan keyakinan mereka hanya untuk sesuap nasi dan sebungkus supermi.

3. Tidak adanya pemerintahan Islam

Hilangnya pemerintahan Islam yang menegakkan syariat Allah membuat musuh-musuh Islam leluasa melakukan pemurtadan dan penyesatan terhadap umat Islam. Begitu juga umat Islam tidak akanberani main-main dengan agamanya. Berikut ini beberapa bukti bahwa pemerintahan Islam mempunyai peran penting di dalam menghentikan gelombang pemurtadan :

Para Khulafa’ Rasyidin menegakan memerangi orang-orang yang murtad danmenghukumi mereka dengan hukuman mati, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Siddiq terhadap Musailamah al-Kadzab dan para pengikutnya.

Begitu juga yang dilakukan oleh Khalifah Al Mahdi, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir pada peristiwa yangterjadi pada tahun 167 H : “ Khalifah Mahdi memburu orang-orang yang murtad kemana saja mereka bersembunyi, mereka yang tertangkap dibawa kehadiran-nya dan dibunuh di depannya . “ ( al Bidayah wa an Nihayah 10/149 )

Begitu juga pada tahun 726 H, Nashir bin as Syaraf Abu Al Fadhl al Haitsami dihukum mati karena menghina ayat-ayat Allah dan bergaul dengan para zindiq. Padahal dia orang yang menghafal kitab At Tanbih, dan bacaan al qur’annya sangat bagus (al Bidayah wa an Nihayah : 14/ 122 )

Berkata Al Qadhi Iyadh : “ Para ulama Malikiyah yang berada di Bagdad pada zaman khalifah al Muqtadir telah sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati kepada al Halaj, kemudian menyalibnya, hal itu karena dia menganggap dirinya Allah dan menyakini Aqidah al Hulul, serta menyatakan bahwa dirinya ((#F� �D-B, padahal al Halaj secara lahir, dia menjalankan syare’at. Al Halaj ini taubatnya tidak diterima ( di dunia ) “ (Asy Syifa’ : 2/1091 )

4. Ghozwul Fikri.

Munculnya pemikiran-pemikiran sesat seperti liberalisme, pluralisme dan sekulerisme telah mendorong terjadi gelombang kemurtadan di kalangan kaum Muslimin, karena paham-paham tersebut mengajarkan bahwa semua agama sama, dan semua orang bebas melakukan perbuatan apapun juga, tanpa takut dosa. Wallahu A’lam

Penulis adalah doktor bidang fikih, Universitas Al-Azhar, Mesir



Dikirim pada 28 April 2011 di Pencinta Allah


Qalbun Maridh’

Kita ini kadang aneh,” kata ustad muda itu di hadapan jamaahnya. “Jika lahiriah kita sakit, kita cepat-cepat cari obat. Jika sakitnya ringan, cukup pake ‘obat warung’. Jika agak berat, buru-buru ke dokter. Jika berat dan gak sembuh-sembuh, kita segera ke rumah sakit. Kita bahkan rela dirawat dan mengeluarkan banyak uang jika sakitnya parah dan mengharuskan kita masuk rumah sakit.”
“Tapi, coba kalau yang sakit batiniah kita, hati/kalbu kita. Kita kadang tak segera menyadarinya, apalagi merasakannya. Boro-boro terdorong untuk mencari obatnya,” imbuhnya.
“Orang sakit itu, biasanya makan/minum gak enak. Sakit demam saja, kadang segala yang masuk ke mulut terasa pahit di lidah. Padahal tak jarang, orang sakit disuguhi makanan yang enak-enak, yang lezat-lezat, kadang yang harganya mahal-mahal pula. Namun, semua terasa pahit, gak enak, gak selera,” tegasnya lagi.
“Sebetulnya, mirip dengan sakit lahiriah, sakit batiniah juga membuat penderitanya merasa ‘pahit’. Apa-apa gak enak, gak selera, gak semangat. Shalat berjamaah di masjid ‘pahit’. Shalat malam terasa gak enak. Shaum sunnah gak selera. Baca al-Quran, meski cuma satu-dua halaman, terasa berat. Hadir di majelis taklim, meski cuma satu jam, tak betah. Dakwah pun sering gak semangat. Padahal semua amalan tadi—jika diibaratkan makanan—adalah ‘enak’ dan ‘lezat’. Betapa tidak! Baca al-Quran saja, misalnya, meski hanya satu huruf, akan Allah balas dengan sepuluh kebaikan. Bagaimana jika kita membaca setiap hari satu ayat, satu halaman, apalagi satu juz yang bisa terdiri dari ratusan ayat, yang tentu terdiri dari ribuan huruf? Betapa enaknya, betapa lezatnya,” tegas ustad itu lagi mengajak jamaahnya merenung.
*****
Saya pun merenung. Saya coba menyelami kata-katanya yang penuh hikmah itu. Benar apa yang ustad muda itu sampaikan. Betapa kita sering tak menyadari apalagi merasakan bahwa hati/batiniah kita sering sakit. Padahal mungkin sudah lama kita tak merasakan lezatnya beribadah seperti shalat, membaca al-Quran, shaum, dll; tak merasakan enaknya berinfak di jalan Allah, berdakwah, melakukan amar makruf nahi mungkar, dll. Bahkan mungkin sudah lama hati kita pun tak lagi bergetar saat mendengar ayat-ayat Allah dilantunkan, apalagi sampai pipi kita ini basah oleh airmata, walau hanya setitik, saat ayat-ayat Allah diperdengarkan. Padahal Allah SWT telah mengabarkan bahwa andai al-Quran diturunkan pada gunung-gunung yang kokoh, niscaya dia akan menjadi hancur-lebur karena takut kepada Allah (QS al-Hasyr: 21).
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah-rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa keringnya mata dari tangisan adalah karena kerasnya hati. Hati yang keras adalah hati yang paling jauh dari Allah.” (Ibn al-Qayyim, Bada’i’ al-Fawa’id, III/743).
Ibnu al-Qayyim rahimahullah membagi hati menjadi tiga jenis.
Pertama: Qalbun Mayyit (Hati yang Mati).
Itulah hati yang kosong dari semua jenis kebaikan. Sebabnya, setan telah ‘merampas’ hatinya sebagai tempat tinggalnya, berkuasa penuh atasnya dan bebas berbuat apa saja di dalamnya. Inilah hati orang-orang yang kafir kepada Allah.
Kedua: Qalbun Maridh (Hati yang Sakit).
Qalbun maridh adalah hati yang telah disinari cahaya keimanan. Namun, cahayanya kurang terang sehingga ada sisi hatinya yang masih gelap, dipenuhi oleh kegelapan syahwat dan badai hawa nafsu. Karena itu, setan masih leluasa keluar-masuk ke dalam jenis hati seperti ini. Orang yang memiliki hati yang sakit, selain tak merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah SWT, juga sering terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa, baik besar ataupun kecil. Hati yang seperti ini masih bisa terobati dengan resep-resep yang bisa menyehatkan hatinya. Namun tak jarang, ia tidak bisa lagi mengambil manfaat dari obat yang diberikan padanya, kecuali sedikit saja. Apalagi jika tak pernah diobati, penyakitnya bisa bertambah parah, yang pada akhirnya bisa berujung pada ‘kematian hati’.
Ketiga: Qalbun Salim (Hati yang Sehat)
Qalbun Salim adalah hati yang dipenuhi oleh keimanan; telah hilang darinya badai-badai syahwat dan kegelapan-kegelapan maksiat. Cahaya keimanan itu terang-benderang di dalam hatinya. Orang yang memiliki hati semacam ini akan selalu merasakan nikmatnya beribadah (berzikir, membaca al-Quran, shalat malam, dll); merasakan lezatnya berdakwah; merasakan enaknya melakukan amar makruf nahi mungkar; bahkan merasakan nikmatnya berperang di jalan Allah SWT.
Di antara sedikit tanda orang yang memiliki hati yang sehat adalah mereka yang Allah gambarkan dalam firman-Nya: Jika dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, mereka tersungkur dengan bersujud dan menangis (TQS Maryam: 58).
Imam Al-Qurthubi berkata, “Di dalam ayat ini terdapat bukti bahwa ayat-ayat Allah memiliki pengaruh terhadap hati.” (al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 11/111).
Inilah juga gambaran hati para salafush-shalih dan generasi orang-orang terbaik dari kalangan umat ini. Jika salah seorang dari mereka melewati ayat-ayat yang menceritakan neraka, hati mereka seperti terasa akan copot karena takut. Jika mereka melewati ayat-ayat yang mengisahkan surga dan kenikmatannya, terasa persendian mereka gemetar karena khawatir mereka akan diharamkan masuk surge dan merasakan kenikmatan yang kekal itu. Dua keadaan inilah yang sering menyentuh hati mereka hingga mereka sering meneteskan airmata. Air mata inilah yang justru akan menyelamatkan mereka dari azab neraka sekaligus memasukkan mereka ke dalam surga. Nabi saw. bersabda, “Ada dua mata yang tak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang tak tidur di malam hari karena berjaga di jalan Allah.” (HR at-Tirmidzi).
Jika kita memiliki hati yang sehat seperti ini, bersyukur dan bergembiralah. Itulah tanda bahwa hati kita sehat (qalbun salim). Hanya hati jenis inilah yang akan diterima Allah SWT saat kita menghadap kepada-Nya (QS asy-Syura: 88-89).
Namun, jika hati kita termasuk hati yang sakit, maka segeralah obati dengan tobat, jaga diri dari maksiat, dan perbanyaklah taqarrub kepada Allah SWT dengan selalu taat. Jangan biarkan hati kita makin parah sakitnya, karena bisa-bisa akhirnya hati kita menjadi mati. Na’udzu billah.
Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. []

Dikirim pada 31 Januari 2011 di Motivasi diri


Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah -Subhanahu wa taala- kepada Rasul-Nya yang terakhir Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- (QS. 48: 28;33:40) sebagai rahmat bagi semesta alam (QS 21:107) dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah -Subhanahu wa taala- (QS 3:19; 5:3). Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber dan pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ia termasuk Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah, dan yang keluar daripadanya maka ia termasuk firqah-firqah yang halikah.

Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda. Dalam tesisnya yang berjudul “Pemikiran Politik Barat” Ahmad Suhelani, MA menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama, prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio – Kultural dan Politik Masyarakat. (Gado-Gado Islam Liberal; Sabili no 15 Thn IX/81)

Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bertemu, namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya, Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haqq tetapi pada hekikatnya suara mereka itu adalah bathi,l karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-. Tetapi bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam-.

Maka dalam makalah ini akan kita uraikan sanad firqah liberal, visi, misi agenda jIL, bahaya mereka terhadap akidah umat, pembentengan dan solusinya. insyaallah. .

SANAD FIRQAH LIBERAL

Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Qur`an dan sunnah. Pada saat itu muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.

Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873) memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani (Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam. (Charless Kurzman: xx-xxiii)

Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-1890) yang membujuk kaum muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada tahun 1877 ia membuka suatu kolese yang kemudian menjadi Universitas Aligarh (1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The Spirit of Islam berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di Inggris pada masa Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- adalah Pelopor Agung Rasionalisme. (William Montgomery Watt: 132)

Di Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari pengaruh salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan pelopor emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali Abd. Raziq (1888-1966) yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam tidak memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatakan bahwa yang dikehendaki oleh al-Qur`an hanyalah sistem demokrasi tidak yang lain.(Charless: xxi,18)

Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis. Ia menggagas tafsir al-qur`an model baru yang didasarkan pada berbagai disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya ia ingin menelaah Islam berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin mempersatukan keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran diluar Islam. (Mu’adz, Muhammad Arkoun Anggitan tentang cara-cara tafsir al-Qur`an, Jurnal Salam vol. 3 No. 1/2000 hal 100-111; Abd Rahman al-Zunaidi: 180; Willian M. Watt: 143)

Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual, satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan al-Qur`an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang dituju oleh al-Qur`an adalah ideal moralnya, karena itu ia yang lebih pantas untuk diterapkan. (Fazhul Rahman: 21; William M. Watt: 142-143)

Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton; Sabili no. 15: 88). Nurcholis Madjis telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun 1970-an. Pada saat itu ia telah menyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini, dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama.” (Nurcholis Madjis: 239)

Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang mengusung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok dengan pikirannya.

Demikian sanad Islam Liberal menurut Hamilton Gibb, William Montgomery Watt, Charless Kurzman dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita urut maka pokok pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang rasionalis dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis la’natulllah ‘alaih. (Ali Ibn Abi al-‘Izz: 395) karena itu JIL bisa diplesetkan dengan “Jalan Iblis Laknat”. Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar What The Caesar’s and to the God What the God’s (Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada kaisar dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada hak Tuhan). (Muhammad Imarah: 45) Karena itu ada yang mengatakan: “Cak Nur Cuma meminjam pendekatan Kristen yang membidani lahirnya peradaban Barat.”

Sedangkan paham pluralisme yang mereka agungkan bersambung sanadnya kepada Ibn Arabi (468-543 H) yang merekomendasikan keimanan Fir’aun dan mengunggulkannya atas nabi Musa -Alahi salam- (Muhammad Fahd Syaqfah: 229-230). Atau lebih tua dari pada itu; yaitu kembali kepada kaum jahiliyyah musyrik yang thawaf dengan telanjang (Lihat Mahmud syukri al-Alusi, Mewaspadai 100 perilaku Jahiliyyah, terjemahan Agus Hasan Bashori, Elba Surabaya, 2005, h.109, masalah ke-27; Shaleh al-Fauzan, Syarah Masail al-Jahiliyyah, masalah nomor 35). Allah -Subhanahu wa taala- menegur mereka atas perbuatannya yang keji itu, namun apa jawaban mereka? Allah berfirman:

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji[1], mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya……" (QS.al-A’raf: 28).
Jadi argumentasi orang jahiliyyah untuk melegitimasi perbuatan keji tersebut ada dua lapis yaitu:

Pertama: tradisi nenek moyang yang sudah didapati secara turun temurun. Hal ini dikenal oleh orang liberal dengan istilah ‘Realitas sosial’. Dengan demikian orang musyrik jahiliyyah dan JIL sama-sama mengukur kebenaran dengan realitas. Oleh karena itu karena pluralitas agama adalah sebuah realitas yang tidak bisa ‘dielakkan’ maka semuanya harus diterima, dan semuanya sama saja. Inilah hakekat paham pluralisme itu.

Kedua: ‘fiqih nafsu , pemikiran liar atau nalar jahili. Mereka mengatakan dengan lantang bahwa perbutan keji itu justru telah diperintahkan oleh Allah –Subhanahu wa taala-. Prinsip ini dikenal dan diamalkan oleh orang liberal dengan istilah rasionalitas, liberalitas dalam bersuara dan berpendapat, hermeneutic, analisa kritis dan lain sebagainya, yaqng diantara produknya adalah Fiqih Lintas Agama yang mirip dengan fiqih musyrik jahiliyyah.( Lihat bantahan kami: Koreksi Total Buku Fiqih Lintas Agama, Pustaka al-Kautsar, 2004)

Maka Allah membantah kedustaan dan kebodohan mereka itu dengan mengatakan:
Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS.al-A’raf: 28).

MISI FIRQAH LIBERAL

Misi Firqah Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya: merusak membusukkan dan menghancurkan) gerakan dakwah islam yang mereka anggap fundamentalis (www.islam lib.com). mereka menulis: “… … sudah tentu., jika tidak ada upaya-upaya untuk mencegah dominannya pendangan keagamaan yang militan itu, boleh jadi, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militan ini bisa menjadi dominan. Hal ini jika benar terjadi, akan mempunyai akibat buruk buat usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia. Sebab pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok-kelompok agama yang ada. Sebut saja antara islam dan Kristen. Pandangan-pandangan kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.”

Yang dimaksud dengan islam fundamentalis yang menjadi lawan firqah liberal adalah orang yang memiliki lima cirri-ciri; yaitu (1) mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat, (2) mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan membangkitkan kembali masa lalu itu (3) mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam (4) mereka yang mempropagandakan bahwa islam adalah agama dan negara, (5) mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa depan.

Demikian yang dilontarkan mantan Presiden Amreika Serikat, Richard Nixon (Muhammad Imarah: 75)

AGENDA DAN GAGASAN FIRQAH LIBERAL

Dalam tulisan berjudul “Empat Agenda Islam Yang Membebaskan; Luthfi Asy-Syaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal. Pertama, agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan dunia, sistem kerajaan dan parlementer (demokrasi) sama saja. Kedua, mengangkat kehidupan antara agama. Menurutnya perlu pencarian teologi pluralisme mengingat semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di negeri-negeri Islam. Ketiga, emansipasi wanita dan keempat kebebasan berpendapat (secara mutlak).

Sementara dari sumber lain kita dapatkan empat agenda mereka adalah (1) pentinganya konstekstualisasi ijtihad (2) komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan (3) penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama (4) pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara (lihat Greg Berton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pustaka Antara Paramadina 1999: XXI)

BAHAYA FIRQAH LIBERAL TERHADAP AKIDAH UMAT

Dari uraian singkat di atas kita sudah dapat merasakan betapa besar bahaya paham liberal dalam islam dan orang-orangnya yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal.
1). Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah –Subhanahu wa taala-, tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan para Thaghut lainnya. Oleh karena yang paling diuntungkan oleh gerakan orang-orang liberal adalah orang-orang non muslim yang ingkar al-Qur’an dan Nabi Muhammad –Shalallahu alaihi wa salam- juga aliran-aliran sesat dan ahli maksiat-, dan yang paling dirugikan adalah umat islam.( Lihat: PembaharuanIslam Di Indonesia: Pandangan Kristen, Martin Lukito Sinaga, islib.com, kolom,3/4/2006).

Bahkan demi membela orang-orang yang amoral sampai salah seorang tokoh liberal berani melecehkan al-Qur’anul Karim- Na’udzu billah minal khudzlan- dengan mengatakan: “Kitab suci yang paling porno di dunia adalah al-Qur’an.” (lihat misalnya: ali.otda.blogdrive.com, atau yang lain

2). Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar keimanan karena itu mereka benci kata-kata jihad, sunnah, salaf, dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, ulama, Al-Qur’an yang Mulia dan lain-lainnya dan mereka rela menyebut dirinya dengan istilah Islam Liberal, Islam Emansipatoris, inklusif pluralis dan lain sebagainya Allah -Subhanahu wa taala- berfirman:
بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ اْلإِيْمَانِ (الحجرات : (11)

3). Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur`an dan meragukan kemudian menolak sebagian yang lain. Supaya penolakan mereka terkesan sopan dan ilmiah mereka menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri al-Qur`an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal.

Sebagai contoh, Musthofa Mahmud dalam kitabnya al-Tafisr al-Ashri li al-Qur`an menafsiri ayat [فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا] dengan “maka putuslah usaha mencuri mereka dengan memberi santunan dan mencukupi kebutuhannya.” (Syeikh Mansyhur Hasan Salman, di Surabaya, Senin 4 Muharram 1423)

Dan tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka pantaslah mengapa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:
(( أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلىَ أُمَّتِيْ مُنَافِقٌ عَلِيْمٌ اللِّسَانُ يُجَادِلُ بِالْقُرْآنِ ))
“Sesuatu yang paling aku takutkan atas umatku adalah seorang munafiq yang pandai bersilat lidah, mendebat dengan al-Qur’an.” (HR. Ahmad 15133, dengan sanad kuat, menurut syekh Syueb al-Arnauth)

Orang-orang seperti inilah yang merusak agama ini. Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

(( هَلاَكُ أُمَّتِيْ فِي الْكِتَابِ وَالَّلبْنِ )) فَقِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ , وَمَا الْكِتَابُ وَاللَّبْنُ ؟ قَالَ : (( يَتَعَلَّمُوْنَ الْقُرْآنَ وَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلىَ غَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ وَيُحِبُّوْنَ اللَّبْنَ وَيَدَعُوْنَ الْجَمَاعَاتِ وَالْجُمَعَ وَيُبْدُوْنَ ))
“Kehancuran ummatku ada pada al-Qur’an dan susu.” Ditanyakan : “Ya Rasuallah, apa (yang dimaksud dengan) al-Qur’an dan susu itu?” Beliau bersabda: “ Mereka mempelajari al-Qur’an dan menafsirinya berbeda dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Dan mereka menyukai susu[2], meninggalkan shalat berjamah dan jum’at, dan mereka tinggal di pedalaman[3]” (HR. Ahmad, 17451, Syueb al-Arnauth berkata: “Kedua sanadnya hasan.”

Mereka mengklaim diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal merekalah perusak Islam, mereka mengaku mangajak kepada al-Qur`an padahal merekalah yang mencampakkan al-Qur`an. Mengapa demikian? Karena mereka bodoh terhadap sunnah. Ibn Mas’ud t berkata: »سَتَجِدُوْنَ قَوْمًا يَدْعُوْنَكُمْ إِلىَ كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّع وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّع وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْق«
“Kamu akan mendapati satu kaum yang mengajakmu kepada Kitabullah, padahal mereka telah mencampakkannya dibalik punggung mereka. Maka kamu wajib berpegang dengan ilmu, dan jauhilah sikap sikap mengada-ada, memaksa-maksa, dan kamu wajib mengikuti yang salaf.”(Lihat Ahamd Ibn Umar al-Mahmashani, Mukhtashar Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 388-389)

4). Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang ada dalam Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya barat, maka mereka melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat. Islam yang murni bagi mereka adalah belenggu, sedang para ulama adalah ‘teroris’ yang mengancan kepentingan mereka.

5). Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, para sahabatnya y dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi mereka pemahaman yang hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks normative agama ( al-Qur’an dan Sunnah) serta pada bentuk-bentuk Formalisme Sejarah Islam paling awal ( salafus shaleh) adalah kurang memadai dan agama ini akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif. (Syamsul Arifin; Menakar Otentitas Islam Liberal, Jawa Pos 1-2-2002). Mereka lupa bahwa sikap seperti inilah yang diancam oleh Allah: ] وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا [ (النساء : 115)

6). Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri atau kepada guru besar mereka dari para orientalis atau missionaris, sebab mereka mengaku sebagai “pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo modernis. Allah berfirman:
] وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ ! أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَيَشْعُرُوْنَ ! وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ ءَامِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَآءُ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَآءُ وَلَكِنْ لاَيَعْلَمُوْنَ [ (البقرة : 11-13)

7). Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu menjadikan Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L. Esposito menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh negara-negara Islam tampil seperti Turki. Artinya bisa saja menjadi antek dan mata-mata bagi Negara penjajah tersebut dengan menjual umat, Negara dan agama ini kepada mereka, sebagaiman layaknya orang munafiq.

8). Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti memcah belah. Disaming mereka adalah para profokator yang menghasut untuk memusuhi apa yang mereka sebut sebagai Islam Fundamentaklis, inklusif dan militan.

9). Mereka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang cukup, serta dukungan dari Negara-negara donor yang maju yang berwatak penjajah, seperti Amerika dan Israel. Misalnya contoh kecil adalah Gunawan Muhammad bos JIL mendapatkan penghargaan dari Israel dan hadiah 2 M karena selama 40 tahun berjasa dalam menyebarkan paham menyimpang di negri muslim terbesar dunia ini. (Replubika, 26/4/2006 h. 3. Sms dari pak Hartono ahmad Jaiz, 26/4/2006, 20:55:15; Harian Surya….)

10). Mereka tidak memiliki manhaj yang jelas dan baku serta tidak bisa diam, padahal diam mereka adalah emas., memang begitu berat jihad menahan lisan. Tidak akan mampu melakukannya kecuali seorang yang mukmin. (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ )) البخارى ومسلم
(Lihat Husain al-Uwaisyah: 9 dan seterusnya)

Sementara itu Ustadz Hartono Ahamd Jaiz menyebut mereka berbahaya sebab mereka itu “sederhana” tidak memiliki landasan keilmuwan yang kuat dan tidak memiliki aqidah yang mapan. (lihat Bahaya Islam Liberal: 40, 64-65)

Ringkasnya: jika umat terpengaruh oleh pikiran JIL maka agama akan rusak, moral akan bejat, dan mati dalam kondisi murtad, sebab mereka meyakini:
Semua agama sama. Islam tidak beda dengan agama kufur dan syirik manapun, semuanya masuk surga.
Semua orang beragama adalah mukmin, oleh karena itu semua bersaudara dan halal saling menikahi.
Meyakini Islam satu-satunya agama yang benar tidak boleh. Oleh karena itu dakwah islamiyahpun tidak boleh. Wajib diganti dengan dialog, tukar menukar pengalaman dan kerja sama dalam bidang social keagamaan.
Al-Qur’an adalah produk budaya, tidak suci dan tidak berada di atas manusia.
Tidak ada yang namanya hukum Tuhan di bidang public dan dunia. Hukum Tuhan hanya dalam ibadah.
Nabi Muhammad hanyalah tokoh histories yang juga memiliki kelemahan-kelemahan, dan sunnahnya tidak mengikat umat.
dll.
PEMBENTENGAN

Untuk membentengi umat dari virus liberal yang membinasakan ini dipelukan pembentengan dalam dua lapis.

Pertama: Upaya pribadi

1. Menjauhi syubhat-syubhat orang liberal sedapat mungkin.

Rasulullah Salallohu alaihi wasallam bersabda:

" مَنْ سَمِعَ باِلدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَ اللهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيْهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ "
“Barang siapa mendengar tentang Dajjal maka menjauhlah (beliau mengucapkannnya 3x). Demi Allah ada seorang yang mendatanginya dengan anggapan bahwa dia adalah mukmin( dalam riwayat: benar) lalu ia mengikutinya karena syubhat-syubhat yang ia lontarkan.” ( HR.Ahmad, 19888, 19982;Hakim 8615; Abu Dawud, 2/519 dari Imran ibn Hushen, dishahihkan syekh Albani, )

2. Ketika mendengarnya atau membacanya segera membacva ta’awwudz

3. Menolak syubhat itu dengan iman dan keyakinan yang kuat. Iman adalah benteng yang terkuat dari segala macam syubhat.
Dasar dari semua ini adalah hadis Abu Hurairah –Radiallahu anhu- Rasulullah bersabda: “ Akan dating setan itu kepada salah seorang kalian lalu bertanya: Siapakah yang menciptakan ini?, siapakah yang menciptalkan itu? Hingga ia bertanya siapakah yang mencitakan Allah?. Maka apabila sampaqi pada tingkat itu maka beristi’adzahlah kepada Allah, dan berhentilah.” Dalam satu lafahz: makaucapkanlah: Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari,6866; Muslim, 135, 212, 215; Abu Dawud, 4721, Ahmad, 8192, 8358 dll. lihat Syarahnya as-Sa’di, Bahjatu Qulubil AbrarWa Qurratu Uyunil Akhyar, hadis nomor 8, h.17-19.)

4. Menolak syubhat tersebut dengan ilmu yang benar, melalui bantuan ahli ilmu. Oleh karena itu setiap muslim wajib berguru kepada ahlu sunnah. Dengan ilmu maka syubhat-syubhat akan sirna; misalnya pada 17 April 2007 Mentri Agama Maftuh Basyuni didemo oleh sekelompok orang yang menamakan diri Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Kepada Menag mereka menuntu-antara lain- agar dalam waktu sesingkat-singkatnya mencabut pernyataan Menag yang menetapkan dan menyatakan bahwa Ahmadiyyah adalah suatu ajaran yang sesat menyesatkan. Dengan mudah kita bisa membantah mereka bahwa “dengan argumentasi yang sama mestinya kalaian harus menghormati agamanya Menag, MUI dan umat Islam, jadi kalian tidak perlu demo., sebab itu berarti memaksakan kehendak pada orang lain dan memaksa orang lain untuk menanggalkan agamanya.”( baca, Adian Husaini, Memaknai Kebebasan Beragama.” Begitu pula orang yang mengaku pluralis tetapi memusuhi kelompok muslim yang dianggap eksklusif berarti mereka sendiri yang eksklusif dan radikal. Begitu seterusnya.

5. Melindungi keluarga dari virus liberal, kalau perlu seorang suami harus ‘mengikat’ anak perempuan dan istrinya di rumah agar tidak terpengaruh, seperti pada kasus Dajjal.

Kedua: Upaya Payung Hukum; berupa fatwa atau kepetusan muktamirin pada setiap jam’iyyah. Alhamdulillah hal ini telah terealisir dengan:
Sikap para kiyahi dan para ulama nahdiyyin di Muktamar Boyolali yang menolak JIL, dan tuntutan mereka agar paham liberal tidak disebarkan di tubuh NU.(Baca misalnya Jawa Pos, Minggu 28 Nopember 2004, h.11)
Sikap para tokoh Muhammadiyyah di Muktamar Malang yang menolak dan melibas tokoh-tokoh liberal di tubuh Muhammadiyyah.( Baca buku PEMIKIRAN MUHAMMADIYAH RESPON TERHADAP LIBERALISASI ISLAM, Terbitan Muhaammadiyah University Press, 2005).
Fatwa MUI Daerah Jawa Timur tertanggal 2/3/1425-22/5/2004
Fatwa MUI Pusat, dalam Munasnya yang ke-7 pada 25-29 Juli di Jakarta, yang telah menetapkan 11 fatwa.( baca selengkapnya Adian Husaini, Pluralisme Agama Haram, Pustaka al-Kautsar).
dll
SOLUSI

Pertama: Upaya Dakwah

Dakwah islamiyah Salafiyyah adalah penawar dari segala racun, obat dari segala penyakit dan senjata ampuh untuk melawan segala musuh.. Ia adalah solusi yang substansial dan total meskipun diperlukan waktu yang tidak singkat. Ambil contoh, bagaimana bangsa penjajah Tatar yang perkasa dan kejam itu tunduk dan takluk dengan dakwah, sehingga mereka berubah menjadi kerajaan Islam.( Baca Abul Hasan An-Nadwi, Rabbaniyyah La Rahbaniyyah, Dar Ibn Katsir, Damaskus 1423, h.22-24.

Kedua : Upaya Hukum


Mengajukan para penebar virus liberal yang merusak bangsa dan agama itu ke pengadilan (jika memang ada pengadilan dan keadilan), untuk menerima hukuman.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, mari kita bersama berjuang untuk membela kebenaran; agama Allah. Allah berfirman:
] وَالَّذِيْنَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍج إِلاَّ تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ [ (الأنفال: 73)

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang Telah diperintahkan Allah itu,[4]niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” . al-Anfal:73)

Disampaikan di masjid Salman ITB,

7/4/1427 - 5/6/2006

MARAJI’

Arifin, Syamsul, Menakar Otentisitas Islam Liberal, Jawa Pos, 1-2-2002
Al-Hanafi, Ali Ibn Abi al-Izz, Tahzdib Syarh at-Thahawiyah, Dar al-Shadaqah, Beirut, cet I 1995
Al-Mahmashani, Ahmad Ibn Umar, Mukhtashar Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi, Tahqiq: Hasan Ismail, Dar al-Khair, Beirut cet. I 1994
Al-‘Uwaisyah, Hasan, Hashaid al-Alsum, Dar al-Hijrahl-Alusi, Mahmud Syukri, Mewaspadai 100 Perilaku Jahiliyyah, Elba Surabaya, 2005
As-Sa’di, Abdurr4ahman, Bahjatu Qulubil AbrarWa Qurratu Uyunil Akhyar, hadis nomor 8, h.17-19.)
Bashori, Agus Hasan, Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur’an, Pustaka as-Sunnah Surabaya, 2003, h.197-204.
_________________, Koreksi Total Buku Fiqih Lintas Agama, Pustaka al-Kautsar, 2004.
CD al-Maktabah asy-Syamilah
Husaini, Adnan, Islam Liberal dan Misinya, Makalah diskusi di Pesantren Tinggi Husnayain Jakarta 8 Januari 2002.
_________________, Pluralisme Agama Haram, Pustaka al-Kautsar, 2005.
Hidayat, Syamsul dan Sudarno Shobron, Pemikiran Muhammadiyah Respon Terhadap Liberalisasi Islam, Terbitan Muhaammadiyah University Press, 2005
Imarah, Muhammad, Perang Terminologi Islam Versus Barat, terjemahan Musthalah Maufur, Rabbani Press, Jakarta 1998.
Jaiz, Hartono Ahmad, Bahaya Islam Liberal, Pustaka al-Kautsar cet II, 2002.
Kurzman, Charless, Wacana Islam Liberal, Paramadina Jakarta 2001.
Majid, Nurcholis, Islam Kerakyatan dan Ke Indonesiaan, Mizan, Bandung cet III/ 1996.
Mu’adz, Muhammad Arkoum Anggitan Tentang Cara-Cara (Tafsir) al-Qur`an, Jurnal SALAM UMM, Malang vol. 3. No. 1/2000.
Ridwan, Nurcholis, Gado-Gado Islam Liberal, Majalah Sabili, No. 15 tahun IX 25 Januari 2002.
Rahman, Fazlur, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam, Terjemahan Taufik Adnan, Mizan, Bandung 1987.
Syaqfah, M. Fahd, Al-Tashawwuf Baina al-Haqqi wa al-Khalq, Dar al-Salafiyah cet III 1983.
Watt, William M, Fundamentalisme Islam dan Modernitas, Terjemahan Taufiq Adnan, Raja Grafindo Persada Jakarta, cet I 1997
Zunaidi, Abd Rahman, Al-Salafiyah wa Qadhaya al-Ashr, Dar Isbiliya, Riyadh cet I 1998
[1] Seperti: syirik, thawaf telanjang di sekeliling kabah dan sebagainya
[2] Simbol harta dunia; mereka menyusu kepada Negara Kafir yang dapat memberi susu.
[3] Demikian ditafsiri dalam kitab Majma’ az-Zawaid 2/424 nomor 3181; Kanzul ummal 1/1011. Orang-orang desa itu gagap modernitas, mudah menghamba pada pemikiran sekuler dan orang-orang yang memberinya materi.
[4] yang dimaksud dengan apa yang Telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.

Dikirim pada 14 Oktober 2010 di Pencinta Allah

Haruskah.??.bagaimana ..??
Sahabat, klo kita mau sedikit saja meluangkan waktu kita untuk merenung tentang kondisi saudara kita (sesama muslim) di manapun mereka berada. Sungguh sangat jauh dari apa yang Allah gambarkan "wa ma arsal naka rahmatan lilalami" "sesungguhnya aku mengutus engkau muhammad menjadi rahmatan lilalami ". Nabi Muhammad di utus keduni ini dengan membawa satu Risalah yaitu islam..ya hanya islam lah yang beliau bawa,. Islam yang mengatur seluruh kehidupan...., tapi kenapa pada bulan ramadhan ini ummat muslim sibuk dengan ibadah akan kemualain bulan ramadhan ini.
Ketika berbuka mulai menjelang setiap orang sibuk mempersiapkan diri untuk berbuka dengan pilihan menu special, tau kah sahabat di daerah-daerah terpencil kenaikan bahan pokok sangat menyengsarakan mereka, yang terfikir adalah "Bisa engga makan sahur hari esok??".
Ketika malam menjelang gema takbir berkumandang dan Shalat malam pun di lakukan, Mesjid yang dulu sepi sekarang membeludak para jemaah,....namun pemandangan ini hanya bisa di dapat ketika awal dan akhir bulan ramdhan....ada apa dengan ummat ini.
Sambil bercengkrama ria sehabis sholat malam dengan keluarga, di sekeliling rumah kita,...terdengar orang mengetuk pintu sambil bernyanyi............ya merekalah para gelandangan muslim yang tidak punya tempat tinggal..hanya Jembatan lah yang menjadi atp tidur mereka, hanya tanah terhampar luas yang menjadi alas tidur mereka setiap hari..
Subuh menjelang, semua orang sibuk menyiapkan sahur, sambil mengaji, shalat taubat, sholat hajat,...dan banyak amalan di lakukan tak lupa hanya mengharap Ridho Allah.
Ketika hari beranjak menjelang..Matahari menyambut riang dengan gembira, menatap diri yang berjalan menyusuri jalanan kota, Namun amalan yg di lakukan semalam harus terkubur karena mata yg tidak bisa mengelakkan tatapan pandangan....Aurat wanita menjadi pandangan sehari2, Pergaulan bebas menjadi adat kebiasaan, Sulit dibedakan mana muslim dan non muslim,...
Islam kini hanya menjadi ritual belaka,

Islam kini di kebiri hanya dimesjid saja,

Islam yang menjadi rahmatan Lilalamin sekarang menjadi individual,
inikah islam yang di bawa rasululluh dan di amalin oleh para sahabat,???
sungguh saudaraku ini bukan islam yang sempurna, islam mengatur seluruh aspek kehidupan,
Islam mengatru Perekonomian, Pendidikan, Kesehatan, Pergaulan, Hukum, Pemerintahan, Politik, Kemananan dn seluruh aspek kehidupan kita,..
Mari kita renungkan betapa semua itu tidak kita lakukan , orang melakukan shaum di bulan ramadhan berdasarkan perintah Allah (AL-Baqarah : 183), namun melupakan perintah Allah yang lainnya (Al-baqarah : 178),
Tahukan sahabat , kontejk perintahnya sama "Kutiba alaykum" -> telah diwajibkan atas kamu......
Sahabat mari kita berbenah diri di bulan ramdhan ini, semoga Ramadhan ini adalah ramadhan terakhir tanpa islam dan syariah yang kaffah
"Hai, orang-orang yang beriman masuklah kalian semua kepada islam secara kaffah (Menyeluruh)"

Dikirim pada 26 Agustus 2010 di Curhat

Piala Dunia, Yahudi, dan “Gaza tidak Butuh Kita”

Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling“. (QS. Al-Baqarah [2]: 83).
Saya tanya pada anda, apa persamaan antara Piala Dunia dengan Pilkada? Sama-sama menghabiskan uang? Bukan… Sama-sama butuh kerja keras? Hampir.. Sama-sama butuh uang suap? Yang itu pasti, tapi laeenn. Lalu apa? Sama-sama memakai peran dukun.
Mistisme Yahudi dalam Piala Dunia
Piala Dunia (PD) memang bak Pilkada. Riuh rendah mewarnai konstelasi permainannya. Dari kericuhan, adu jotos, hingga dunia mistis. Uniknya, ini bukan mistis skala lokal, tapi dunia. Tapi sama-sama butuh angka. Kalau Pilkada butuh jutaan suara, Piala Dunia lebih kompleks lagi. Di sini quick count tidak bisa menembus kepastian suara.
Selama sejarah bergulir, aroma mistisisme Piala Dunia sangat kencang berhembus. Bagi anda pecinta Indonesia, mungkin pernah mendengar bahwa Hindia Belanda yang dulu mengatasnamakan Indonesia pada Piala Dunia 1938 Perancis, pernah membawa boneka yang digantung pada jala gawang Mo Heng (penjaga gawang Hindia Belanda). Boneka itu telah kadung dianggap sebagai jimat. Ironisnya, mereka percaya saja. Kenyatannya, boneka tersebut memang tidak pernah membawa keberuntungan. Yang terjadi adalah Hindia Belanda babak belur dibantai Eropa.
Piala Dunia 2010 pun tidak lepas dari sentuhan para dukun. Sebelum perhelatan Piala Dunia, pihak panitia dengan bantuan para dukun Zulu telah memberkati Stadion Soccer City dengan ritus memotong seekor sapi. Penerapan ritual magik ini ditujukan agar stadion aman dan membawa keberuntungan bagi "Bafana-Bafana", julukan Tim Afrika Selatan.
"Sepertinya ada nasib baik untuk Afrika Selatan. Lihatlah, tidak akan ada masalah. Tidak akan ada bom," begitu kata seorang dukun berusia 33 tahun sambil menunjuk ke arah sebuah tulang jari yang tergeletak jauh dari kumpulan tulang yang berserakan di lantai sebuah stasiun bus.
Ternyata, kejadian itu tidak hanya dominasi Selatan Afrika. Sebelumnya di Pantai Gading ada kejadian serupa. Para suporter mengunjungi hutan suci. Durasinya, dua atau tiga kali seminggu untuk mendukung tim. Bahkan salah seorang dukun di sana, juga melakukan pemotongan sapi bagi kemenangan Didier Drogba Cs di Lapangan Hijau.
Ironisnya, perjalanan kesebalasan kedua negara itu hanya mentok pada babak penyisihan Piala Dunia 2010 ini.
Dalam tradisi Yahudi, pemotongan sapi dipersembahkan untuk iblis. Di Israel, kini para zionis tengah mempersiapkan pemotongan sapi apabila Kuil Solomon pada kemudian hari berdiri menggusur Masjid Al Aqsa.
Menariknya, tradisi pemotongan sapi direkam dalam ucapan Rasululllah. Abdurrazzaq menjelaskan bahwa Rasulullah berkata, “Kaum musyrikin dahulu sering menyembelih sapi atau kambing di pekuburan.” (HR. Abu Dawud nomor 3222 dengan sanad yang shahih).
Yang dimaksud dengan aqra’ dalam hadits tersebut adalah menyembelih di pekuburan sebagaimana tradisi orang kafir jahiliyah. Al Khaththabi mengatakan, “Kaum jahiliyah dahulu sering menyembelih unta di samping kuburan seorang.” (Lihat keterangan lebih lanjut dalam Aunul Ma’bud 9/30-31)
Satu-satunya pelatih dari Eropa yang memahami kultur Afrika dalam sepak bola mungkin hanya Philippe Troussier. Mantan pelatih timnas Nigeria, Afrika Selatan, Burkina Faso, dan Maroko ini tak ragu mengikuti upacara ritual para muti. Ia pun sukses melatih dan dijuluki sang dukun kulit putih.
Serupa tapi tak sama, hal itu mirip dengan apa yang dilakukan Raymond Domenech. Bagi saya, pelatih negara mayoritas muslim terbesar di Eropa ini adalah pelatih paling kontrovesrial sepanjang perjalanan Tim Nasional Perancis.
Kekalahan Perancis dalam dua event, yakni Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010 adalah buah dari betapa kuatnya kepercayaan Domenech atas takdir dunia perbintangan.
Ia dituding tak realistis saat memilih 23 pemain dengan berdasarkan pada dunia astrologi. Domenech sangat menghindari memanggil pemain dengan zodiak Scorpio. Tak heran jika Robert Pires, Ludovic Giuly, Podreti, dan Micoud tak pernah menjadi prioritasnya.
Tak masuknya Samir Nasri dan Karim Benzema pun semata-mata karena ramalan bintang. Padahal dua pemain Muslim itu, adalah ikon pemain muda perancis yang cukup bersinar di Liga Inggris dan Spanyol.
Kegilaan Domenech itu harus dibayar mahal. Kekalahan beruntun Perancis di Piala Dunia 2010 memprovokasi para pemain untuk memboikot latihan. Bagi para punggawa Tim Ayam Jantan ini, mungkin Domenech adalah Pelatih terkonyol selama mereka mengadu kaki di lapangan hijau.
Kasus ini, sampai-sampai memaksa Peradana Menteri Perancis, Nicholas Sarkozy, turun tangan. Ia meminta pemain untuk tetap tenang. Namun yang jelas, ketua FFF (PSSI Perancis), telah mundur dari kursi jabatannya.
Samuel, Maradona, dan Messi: The Jewish Message
Lain lagi kasusnya dengan Argentina. Ada hal yang menarik dalam tim ini. Salah seorang punggawa lini belakang Abiceleste (Tim biru muda) adalah seorang Yahudi tulen. Walter Adrian Samuel lahir pada tanggal 23 Maret 1978 di Firmat, Santa Fe, Brasil. Simbol-simbol Yahudi terlihat jelas dari nomor punggung yang ia pakai di timnas dengan corak kostum biru muda-putih ini. Pada era tahun 2000an, Walter Samuel adalah pemain yang mencitai angka 6. Lho ada yang salah dengan nomor punggung genap itu?
Permasalahannya, ini sepakbola bukan matematika. Dalam tradisi kostum sepakbola, angka pada pemain sepakbola akan menempel pada tiga tempat: dada, celana, dan punggung. Alhasil apabila ketika tempat itu disatukan, hasilnya menjadi 666. Lho, bukankah saat Argentina melawan Mexico dua hari yang lalu nomor enam tidak lagi milik Walter Samuel? Tepat, karena Walter Samuel sekarang memakai nomor 13! Angka yang juga keramat dalam tradisi Kaballah!
Baiklah, sekarang kita beralih kepada Allenatore (Baca: Pelatih). Anda percaya bahwa arsitek Timnas Argentina sekarang adalah seorang ”Tuhan”? Tidak pernah ada dalam sejarah Piala Dunia bahkan sepakbola, bahwa seorang Pelatih dianggap Tuhan sekaligus Yesus. Sekaligus pemain Sepakbola. Agama Maradona memang tidak pernah di-SK-kan oleh Maradona sendiri.
Tapi Maradona harus menerima kenyataan bahwa agama yang memakai namanya itu memiliki 10 Perintah Tuhan: sama seperti Yahudi. Bedanya 10 perintah di agama Maradona berisi: 1. Bola tidak boleh kotor, seperti telah diproklamasikan oleh D10S. D1OS adalah singkatan dari Diego 10’s. Dios berarti sama artinya dengan Tuhan dalam bahasa Spanyol. 2. Cinta sepakbola atas segala sesuatu 3. Menyatakan cinta tanpa syarat pada sepak bola. 4. Mempertahankan warna dari argentina 5. Menyampaikan kata-kata D10S seluruh dunia 6. Berdoa di kuil-kuil di mana ia berkhotbah dan di mantel suci 7. Jangan menyatakan nama Diego di satu-satunya klub. 8. Ikuti ajaran Gereja Maradonian 9. Biarkan Diego akan nama-Mu, dan menjadi salah satu dari nama anak-anak Anda 10. "No ser cabeza de termo y que no se te la Tortuga melarikan diri." (Artinya, jangan jadikan kepala panas dan simpanlah di dalam celana)
Kronologis munculnya agama Maradona mungkin adalah sejarah terlucu dalam sejarah berdirinya sebuah agama.
Alkisah, pemain cebol ini berhasil mengantar Argentina menjadi Juara Dunia tahun 1986. Sebelumnya, saat melawan Inggris, Maradona berhasil menceploskan gawang ke jala Inggris melalui tangan tanpa sepengetahuan wasit. Padahal dalam peraturan sepakbola, memegang bola dengan tangan sudah jatuh haram (baca: pelanggaran).
Agama ini kemudian resmi didirikan pada tanggal 30 Oktober 1998. Kini menurut perkiraan, Agama Maradona mereka memiliki 15.000 pengikut (Jangan-jangan salah satunya adalah anda?).
Replika gereja agama Maradona (Iglesia Maradonina) pun memiliki tiang ganda. Menurut Harun Yahya, bagian dekor loge Masonik yang sangat diperlukan adalah tiang ganda di pintu masuk. Kata “Jachin” dan “Boaz” dipahatkan di atasnya, sebagai tiruan dari dua tiang pada pintu masuk Kuil Sulaiman. Asal usul tiang-tiang ini lagi-lagi berasal dari Mesir Kuno.
Di dalam sebuah artikel bertajuk “Alegori dan Simbol-Simbol dalam Ritual Kita”, majalah Mimar Sinan menyebutkan di Mesir, Horus dan Set merupakan arsitek kembar dan penopang langit. Bahkan begitu juga Bacchus di Thebes.
Kedua tiang di dalam loge kita berasal usul dari Mesir Kuno. Salah satu tiang ini berada di selatan Mesir, di kota Thebes; yang lainnya berada di utara Heliopolis. Di pintu masuk kuil Amenta yang dipersembahkan untuk Ptah, dewa kepala Mesir, disebutkan dua tiang, dinamai kecerdasan dan kekuatan, yang didirikan di depan gerbang masuk keabadian.
Maradona memang menjadi kontroversi pasca gol tangan tuhannya (baca: Gol dengan menggunakan tangan). Uniknya, Maradona mengunjungi Israel dan berdoa di Tembok Barat sebelum turnamen, dan melakukannya lagi menjelang turnamen 1990. Ironisnya, tahun 1990 ia kalah di final. Lalu kenapa Thiery Henry dan Luis Fabiano yang juga menggolkan lewat tangan tidak dianggap Tuhan? Kalau begitu ada masalah di sini. Berarti, agama Maradona adalah overdesis teologis.
Namun kini era telah berganti. Lionel Messi, pemain terbaik Eropa tahun lalu ini sudah menjadi kultus baru sebagai titisan Maradona zaman Milenium. Kedekatan emosional Maradona terhadap Messi memang kuat. Bak anak, Messi adalah anak kandung sekaligus bak ”anak tuhan” bagi Maradona.
Jerusalem Post seperti dikutip eramuslim.com, bahkan menurunkan laporan tentang Messi dilihat dari perspektif Kabbalah Yahudi. Menurut Kabbalah, tanggal lahir Ibrani berdampak signifikan terhadap kehidupan dan takdir mereka. Messi dilahirkan jam 20:20 pada tanggal 24 Juni, 1987 yang berarti bahwa ia mempunyai tanggal Ibrani: 28 Sivan 5747
Jika kita mengeja nama Messi dalam bahasa Ibrani, dapat juga dibaca sebagai bentuk singkatan dari yud mispar - nomor 10. Yud 10 adalah huruf abjad Ibrani dan memiliki nilai numerik 10, baik dalam gematria (numerologi Kabbalistik) dan dalam kehidupan sehari-hari. Kelas kesepuluh, misalnya, dalam bahasa Ibrani, adalah Kita Yud. Surat yud di Kabbala mengacu pada yad, yang berarti "tangan.
Pertanyaannya, apakah Messi juga nanti akan dianggap Tuhan? Mengutip, apa kata komentator sepakbola: Bola itu bundar, segalanya bisa terjadi.
Three Lions dan Beckham.
Kita terbang ke Inggris. Saya tidak akan banyak berbicara Intrik simbolis Yahudi dalam tim Inggris. Namun yang jelas sebuah buku Biografi Beckham cukup membuat geger pecinta pemain tempan tersebut.
Dalam buku biografi pertamanya, My World, Beckham bicara tentang betapa darah Yahudi kakeknya itu mempengaruhi kehidupan pribadinya. Beckham mengatakan bahwa, ”Saya mungkin mempunyai hubungan yang lebih banyak dengan Yudaisme, daripada dengan agama-agama lain.”
Selanjutnya, mantan pemain AC Milan ini juga mengatakan, bahwa “Saya suka mengenakan topi tradisional Yahudi semasa kanak-kanak, dan juga menghadiri pernikahan-pernikahan orang Yahudi bersama kakek saya.” Kutip media Israel JC.com (10/12/09).
Dan ketika Bekcham hadir di pemakaman mengenakan kippah, yang katanya peninggalan si kakek, kegembiraan diekspresikan orang-orang Yahudi dengan memuatnya di berbagai laman web mereka.
Seorang blogger Yahudi di Israel menulis, “Jadi, kippah rupanya sudah nyaman bertengger di kepalanya.” Lebih jauh ditulisnya, Victoria–istrti Bekham–yang bukan keturunan Yahudi bahkan telah membuat tato Hebrew di tubuhnya: ‘Ani L’VDodi Dodi Li, HaRoeh BaShoshanim’, dari Kidung Agung 6:3.
Kini Beckham menjadi asisten Fabio Capelo, pelatih Inggris. Logo tim mereka adalah tiga kepala singa sedang menghadap ke depan dengan background salib templar.
Piala Dunia bukan untuk Dunia Islam
Kita kembali lagi ke Afrika hanya untuk melihat seorang penonton dari Negara Slovenia sedang celingak-celinguk ke sisi samping. Selama saya memperhatikan pergelaran yang menhhabiskan dana puluhan trilyun itu, tidak biasanya seorang penonton Piala Dunia 2010 berjalan hilir-mudik. Ia keluar dari tribun penonton bukan karena Slovenia kalah. Sebagai muslim, ia mencari mushola atau setidaknya tempat yang layak untuk shalat.
Waktu sudah masuk Ashar. Semua penjaga stadion tampak kebingungan. Mana ada tempat shalat dalam stadion? Hatta di Stadion Senayan Indonesia (Baca: negara mayoritas muslim) saja tidak ada. Akhirnya, pendukung Slovenia itu shalat tidak jauh dari toilet.
Piala Dunia memang bukan untuk orang Muslim. Sepakbola adalah ”agama” sekaligus yang ”membunuh” agama. Dalam statuta FIFA, mustahil tertera item ketersediaan tempat ibadah sebagai syarat berdirinya stadion berlevel Internasional. Di Barat, agama adalah benalu. Sepakbola adalah alat pemotongnya. Akhirnya, kita biasa saja melihat pertandingan sepakbola lebih ramai dari Gereja. Di Indonesia, Stadion lebih semarak dari masjid.
Pertandingan di negara kita masih dilaksanakan pada jam-jam shalat. Waktu permanen Liga Indonesia pada sore hari berlangsung saat shalat ashar. Pada jeda pergantian waktu, tidak jarang pemain sudah letih dan memilih untuk menunda shalatnya. Bahkan di Manchester United, tepat di depan Old Traford ada Patung pemain menginjak si kulit bundar dengan stempel, ”It’s Like Religion”.
Sepakbola memang sudah seperti agama. Dimana wasit bisa menjadi Tuhan untuk menentukan menang dan kalah. Kasus Calciopoli (pengaturan skor) yang dilakukan Juventus adalah salah satu ”Ibadahnya”.
Yel-yel ”Lebih baik mati daripada Indonesia kalah” adalah ”zikirnya”, dan konvoi keliling kota saat tim kita juara adalah ”hari lebarannya”. Pertanyannya, dimanakah akhiratnya? Ya akhirat anda, pendukung Spanyol, Brasil, Argentina, Jepang, ternyata tetap sama: Yaumil Akhir!
Saya hanya ingin mengingatkan, sejarah Piala Dunia dalam beberapa perhelatan ke belakang. Seorang penulis geram. Ia berkata bagaimana mungkin kita lupa bahwa lebih dari 20 lelaki dan perempuan, termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak, telah dibunuh oleh penjahat Israel dalam dua pekan terakhir, sejak pembukaan Piala Dunia 2006 empat tahun yang lalu. Tapi tak ada yang memberikan perhatian.
Sekarang sebesar apa ingatan kita terhadap Palestina? Seluas apa pandangan kita terhadap misi Yahudi di Piala Dunia ini dengan segenap produk penunjangnya? Masih ingatkah kita terhadap darah Umat Muslim yang masih segar bercecer di Mavi Marmara?
Sepertinya, tragedi ini tenggelam seiring teriakan kita merayakan gol Spanyol ke gawang Chile. Sorak-sorai deru nafas kita memburu liukan Arjen Robben sebelum merobek jala Slovakia. Padahal 31 Mei 2010 adalah saksi sejarah kebiadan Israel yang telah menyerang kapal kemanusiaan, Mavi Marmara milik Turki yang membawa 500 relawan dan aktifis kemanusiaan peduli Palestina dari 30 negara menuju perairan Gaza.
Sembilan orang syahid. Dan sayangnya, kita juga lupa pada Palestina. Kita lupa bahwa sampai sekarang Yahudi terus membangun terowongan di bawah Masjidil Aqsa. Meminjam ucapan Ustadz Zain An Najah, ”Kita ngomong Palestina hanya anget-anget tai ayam”.
Problemnya mungkin sederhana. Doa kita sudah berganti dari Palestina, ke Jerman juara. Kita mengadu kepada Tuhan, mengapa Italia berhenti di babak muka. Tapi kita enggan bermunajah, atau sekedar meminta ampun melihat sumbangsih kita terhadap Palestina yang belum seberapa. Padahal Palestina butuh anda dan kita.
Ya anda yang pendukung Argentina. Anda yang pendukung Italia. Anda pecinta Kaka. Atau jangan-jangan benar kata Santi Soekanto, relawan dari Sahabat Al Aqsa itu, bahwa ”Gaza tidak butuh kita”
Wallahu’alam

Dikirim pada 05 Juli 2010 di Al Islam


TRAGEDI PALESTINA: MASALAH AKIDAH, BUKAN SEKADAR MASALAH KEMANUSIAAN
[Al-Islam 510] "It’s not about jews nor muslim nor christian. It’s about humanity (Ini bukan masalah Yahudi, Muslim atau Kristen. Ini masalah kemanusiaan).” Itulah di antara kalimat yang diusung oleh salah satu organisasi mahasiswa Islam saat berdemo menyikapi tragedi paling mutakhir di Palestina.
Pernyataan tersebut boleh jadi mewakili sebagian kaum Muslim saat ini dalam menyikapi penyerangan pasukan Israel terhadap para relawan di Kapal Marvi Marmara–satu dari 6 kapal Armada Kebebasan (Freedom Flotilla)–yang menewaskan puluhan relawan pada hari Senin (31/5).
Memang, dengan hanya melihat tragedi mutakhir ini, siapapun akan menilai bahwa ini masalah kemanusiaan. Alasannya, Israel menyerang para relawan dari berbagai negara dan lintas agama. Korban serangan Israel pun tak hanya Muslim, tetapi juga non-Muslim.
Namun, ini tentu bukan satu-satunya alasan. Pasalnya, setiap kali Tragedi Palestina berulang, termasuk pembantaian besar-besaran oleh institusi Yahudi sekitar dua tahun lalu yang menewaskan ribuan Muslim Palestina, hal yang sama juga mengemuka. Intinya, semua itu tidak terkait dengan masalah agama (baca: Islam), tetapi semata-mata masalah kemanusiaan. Dengan demikian, ada faktor lain mengapa sebagian kaum Muslim memandang Tragedi Palestina semata-mata sebagai masalah kemanusiaan. Salah satunya, karena kesadaran politik umat Islam yang lemah. Akibatnya, mereka tidak sadar, bahwa Barat imperialis selalu berusaha menggeser isu Palestina semata-mata sebagai masalah kemanusiaan, bukan masalah agama. Pasalnya, musuh-musuh Islam itu amat paham, sekali kaum Muslim mengaitkan isu Palestina dengan masalah agama (Islam), mereka akan dengan mudah menyuarakan jihad (perang) melawan institusi Yahudi penjajah Palestina itu. Inilah yang tentu amat ditakuti institusi Yahudi dan ‘induk semangnya,’ yakni Barat imperialis.
Akar Masalah Palestina
Bagi kaum Muslim, akar persoalan Palestina (sejak Yahudi menjajah Palestina tahun 1948 hingga hari ini) sesungguhnya bersinggungan paling tidak dengan tiga aspek: (1) akidah/syariah Islam; (2) sejarah; (3) politik.
1. Aspek akidah/syariah.
Dalam pandangan Islam, Tanah Palestina (Syam) adalah tanah milik kaum Muslim. Di tanah ini berdiri al-Quds, yang merupakan lambang kebesaran umat ini, dan ia menempati posisi yang sangat mulia di mata kaum Muslim. Ada beberapa keutamaan dan sejarah penting yang dimiliki al-Quds. Pertama: tanah wahyu dan kenabian. Rasulullah saw. bersabda, "Para malaikat membentangkan sayapnya di atas Syam dan para nabi telah membangun Baitul Maqdis (Al-Quds).” Ibnu Abbas menambahkan bahwa Rasulullah saw. juga bersabda, "Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR at-Tirmidzi).
Kedua: Tanah kiblat pertama. Arah kiblat pertama bagi Nabi Muhammad saw. dan kaum Muslim setelah hijrah ke Madinah adalah Baitul Maqdis (al-Quds) sampai Allah SWT menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka’bah (QS al-Baqarah [2]: 144).
Ketiga: Masjid al-Aqsha adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw. untuk dikunjungi. Beliau bersabda, “Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram (di Makkah), dan Masjid Al-Aqsha.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. pun bersabda, “Sekali shalat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 shalat. Sekali shalat di Masjidku (di Madinah) sama dengan 1000 shalat. Sekali shalat di Masjid al-Aqhsa sama dengan 500 shalat.” (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).
Kelima: tanah ibukota Khilafah. Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku di Madinah, lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah, lalu di al-Quds (Baitul Maqdis). Jika Khilafah ada di al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibukotanya keluar dari sana (al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya.” (HR Ibn Asakir).
2. Aspek Sejarah.
Tercatat bahwa Syam (Palestina adalah bagian di dalamnya) pernah dikuasai Romawi selama tujuh abad (64 SM-637 M). Namun, berita akan jatuhnya Syam dari imperium Romawi ke tangan kaum Muslim muncul kala Rasulullah saw. menghancurkan sebuah batu ketika penggalian parit di Madinah dalam rangka menghadapi kaum musyrik dari Makkah. Ketika itu Rasulullah saw. berkata, "Allah Mahabesar. Sungguh telah diberikan kunci Syam kepadaku."
Cita-cita agung untuk merebut Syam dari imperium Romawi terus digelorakan oleh Rasulullah saw. kepada para Sahabat, di antaranya kepada Muadz pada suatu hari. Beliau bersabda, “Muadz! Allah Yang Mahakuasa akan membuat kalian sanggup menaklukkan Syam, setelah kematianku…”
Tepat pada tahun ke-8 H sebanyak tiga ribu pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah bergerak menuju Balqa’, salah satu wilayah Syam. Di sana sudah menanti bala tentara Romawi yang berjumlah dua ratus ribu di bawah pimpinan Herqel, seorang kaisar Romawi. Sampailah detik-detik yang menegangkan: tiga ribu pasukan kaum Muslim berhadapan dengan kekuatan besar berjumlah dua ratus ribu pasukan. Saat itu, sebagian Sahabat berharap agar Rasul saw. mengirim tentara tambahan. Namun, seorang sahabat bernama Abdullah bin Rawahah memberikan semangat kepada seluruh pasukan sembari berkata, “Wahai kaum Muslim, demi Allah…bersaksilah bahwa kita tidak berperang karena banyaknya pasukan. Kita tidak berperang melawan mereka kecuali atas nama Islam yang Allah telah memuliakan kita karena Islam. Berangkatlah, berjihadlah! Sesungguhnya hanya ada satu pilihan bagi kita, menang atau syahid!”
Saat pasukan kaum Muslim mendengar seruan ini, mereka segera bangkit melawan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya walau dengan jumlah yang tidak seimbang. Dalam pertempuran itu, panglima perang kaum Muslim, Zaid bin Haritsah syahid, dan diganti oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far pun syahid, lalu tonggak kepemimpinan diserahkan kepada panglima Islam yang ketiga, Abdullah bin Rawahah. Beliau pun syahid. Akhirnya, pasukan Islam dipimpin Khalid bin Walid.
Perjuangan panjang dan melelahkan kaum Muslim itu baru menuai hasil pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. (638 M).
Namun sayang, setelah dikuasai kaum Muslim sekian abad hingga masa Kekhilafahan Abbasiyah, tanggal 25 November 1095, Paulus Urbanus II menyerukan Perang Salib dan tahun 1099 pasukan Salib menaklukkan al-Quds. Mereka membantai sekitar 30.000 warga al-Quds dengan sadis tanpa pandang bulu (wanita, anak-anak dan orang tua).
Namun, alhamdulillah, pada tahun 1187, Salahuddin al-Ayyubi sebagai komandan pasukan Muslim berhasil membebaskan kembali al-Quds dari pasukan Salib yang telah diduduki selama sekitar 87 tahun (1099–1187).
3. Aspek politik.
Aspek politik dari isu Palestina ini tidak bisa dilepaskan dari zionisme dan imperialisme Barat. Zionisme adalah gerakan orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara khusus bagi komunitas mereka di Palestina. Theodore Hertzl merupakan tokoh kunci yang mencetuskan ide pembentukan negara tersebut. Ia menyusun doktrin Zionismenya dalam bukunya berjudul Der Judenstaad’ (The Jewish State). Secara nyata, gerakan ini didukung oleh tokoh-tokoh Yahudi yang hadir dalam kongres pertama Yahudi Internasional di Basel (Swiss) tahun 1895. Kongres tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang, mewakili 50 organisasi zionis yang terpencar di seluruh dunia.
Sebagai gerakan politik, zionisme tentu membutuhkan kendaraan politik. Zionisme lalu menjadikan Kapitalisme–yang berjaya dengan imperialismenya–sebagai kendaraan politiknya. Zionisme ternyata berhasil menuai berbagai keuntungan politis berkat dukungan imperialisme Barat sejak dimulainya imperialisme (penjajahan) tersebut hingga saat ini.
Karena kesadaran pengikut zionis akan pentingnya bersandar kepada pihak luar, maka mereka bergabung dengan sentral kekuatan imperialisme yang mampu untuk menjamin perlindungan dan keamanan terhadap mereka. Untuk itu, zionis Yahudi memindahkan kegiatan dan markas mereka ke Amerika, agar terus mendapat jaminan perlindungan dan keamanan Amerika.
Zionis dan Imperialis=Teroris!
Eratnya hubungan zionisme dengan imperialisme AS dapat dilihat dari beberapa fakta berikut. Semasa masih menjadi presiden, Bill Clinton (14/8/2000), misalnya, pernah berkata, “Kami harus menjalin hubungan erat dengan Israel, sebagaimana telah saya lakukan sepanjang kekuasaan saya sebagai presiden dan sepanjang 52 tahun lampau.”
Pada awal-awal kekuasaannya sebagai presiden AS, George W. Bush, ketika mengucapkan selamat kepada Ariel Sharon dalam Pemilu tanggal 6/2/2001, juga menyatakan, “Amerika akan bekerjasama dengan semua pemimpin Israel sejak berdirinya pada tahun 1948. Hubungan bilateral kami sangat kokoh layaknya batu karang…”
Presiden AS saat ini, Barack Obama, sejak awal kampanyenya untuk pemilihan presiden, juga mengungkapkan hal senada: dukungan total dan tanpa syarat terhadap Yahudi-Israel.
Demikianlah sikap resmi pemerintah AS terhadap Israel dari dulu hingga kini. Wajar jika berbagai kebijakan politik yang kotor dan kejam yang ditempuh Israel di Timur Tengah akan selalu mendapatkan dukungan dari AS. Karena itu, baik zionis maupun imperialis seperti AS sesungguhnya adalah teroris!
Sikap Umat Islam
Jelas dari paparan di atas, isu Palestina sesungguhnya akan selalu berkaitan dengan aspek agama, sejarah dan politik; bukan semata-mata masalah kemanusiaan. Karena itu, belum terlambat waktunya bagi kaum Muslim untuk menyadari bahwa musuh mereka saat ini adalah Zionisme Yahudi dan Imperialisme Barat (terutama AS). Kaum Muslim harus sadar bahwa akar masalah Palestina adalah keberadaan negara Israel yang berdiri di atas tanah milik kaum Muslim yang telah mereka rampok. Jadi solusinya jelas, yaitu memobilisasi tentara negeri-negeri Islam untuk menghancurkan negara Israel dan mengusir Yahudi dari tanah Palestina. Sayangnya solusi ini tidak dapat dilakukan selama kaum Muslim terpecah belah dan dipimpin oleh pemimpin yang tuduk di bawah hegemoni Barat. Karena itu, kaum Muslim harus bersatu membangun sebuah institusi yang kuat, yakni sebuah negara yang berbasiskan ideologi Islam. Sebab, ideologi Barat–yakni Kapitalisme yang melahirkan imperialisme dan zionisme–hanya mungkin dilawan dengan ideologi Islam. Begitu pula negara semacam AS dan Israel hanya mungkin dapat dilawan dengan Negara yang menyatukan kaum Muslim, yakni Khilafah Islam.
]وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ[
Allah SWT berkuasa atas urusan-Nya, namun kebanyakan manusia tidak memahaminya (QS Yusuf [12]: 21).

Dikirim pada 10 Juni 2010 di Hikmah

ISRAEL BRUTAL: AS MENDUKUNG, PENGUASA MUSLIM HANYA MENGECAM
[Al-Islam 509] BRUTAL! Untuk ke sekian kalinya, dunia disuguhi tontonan kebiadaban Yahudi-Israel. Israel secara brutal menembaki rombongan relawan dari berbagai negara yang diangkut sembilan kapal. Kapal tersebut membawa setidaknya 10,000 ton bantuan dan 750 aktivis. Turut serta dalam armada ini 44 pejabat pemerintah, anggota parlemen dan aktivis politik Eropa dan Arab, termasuk sepuluh anggota parlemen Aljazair. Armada ini membawa bantuan untuk penduduk Gaza yang lama menderita, apalagi sejak Israel membombardir wilayah tersebut awal 2009 dan terus memblokadenya hingga hari ini.
Para relawan itu dihadang, sebagiannya (tidak kurang dari 19 orang) bahkan dibunuh di atas kapal yang membawanya. Tentara dan penguasa Israel benar-benar telah mengunci rapat mata, telinga, akal dan hatinya; tidak peduli bahwa relawan yang berlayar menuju Gaza itu dalam rangka misi kemanusiaan. Pasalnya, Israel tidak menghendaki terbukanya blokade atas Gaza. Selain 19 korban tewas, "Sejauh ini, 83 telah ditahan, 25 di antaranya telah sepakat untuk dideportasi. Sisanya akan dipenjara." Demikian kata Jurubicara Kepolisian Israel Sabine Hadad seperti dilansir AFP, Selasa (1/6/2010). Hadad mengatakan, Kepolisian Israel masih akan melakukan penangkapan terhadap ratusan relawan lainnya.
Hampir dua tahun penduduk Gaza menderita akibat blokade Israel. Perbuatan semena-mena tersebut mengakibatkan terputusnya pasokan pangan dan obat-obatan dari luar. Gaza memang sangat bergantung pada impor makanan dan obat-obatan dari luar negeri. Israel juga memperketat penjagaan perbatasan. Israel bahkan menghancurkan Terowongan Gaza yang mensuplai kebutuhan pangan penduduk Gaza. Akhirnya, banyak yang menderita sakit dan kelaparan. Persediaan obat-obatan juga tidak ada. Israel benar-benar menghendaki kematian perlahan bagi penduduk Gaza.
Dukungan Total AS
Berbagai kecaman–hanya sekadar kecaman–mengalir. Namun, seperti biasa, kecaman itu segera lenyap ditelan waktu. Israel pun tetap dengan pongahnya mempertontonkan kebrutalannya. PBB yang katanya berfungsi sebagai penjaga perdamaian dunia hanya membisu menyaksikan kebiadaban Israel atas bangsa Palestina yang sudah berlangsung puluhan, bahkan ratusan kali. Amerika Serikat (AS), yang merupakan anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, tak pernah absen mendukung setiap kebrutalan Israel, baik secara langsung maupun lewat upaya memveto (menggagalkan) setiap resolusi PBB yang merugikan Israel.
AS memang mengecam serangan Israel kali ini, sebagaimana dinyatakan Jurubicara Gedung Putih William Burton (Reuters, 31/5). Namun, dunia pun tahu, itu hanyalah sikap sandiwara AS. Faktanya, AS mendukung penuh setiap tindakan Israel. Bahkan senjata-senjata yang saat ini dipakai untuk membunuhi para relawan adalah senjata-senjata yang dibeli dengan dolar bantuan dari AS. Tahun ini AS bahkan berencana menaikkan bantuan anggaran militer untuk Israel hingga 6 miliar dolar AS pertahun. Ini seperti yang diungkap Wapres AS Joe Biden ketika berceramah di Universitas Tel Aviv. Wapres AS Joe Biden pun telah menjanjikan dukungan penuh Washington terhadap Zionis-Israel. Saat mengadakan pembicaraan terpisah dengan Netanyahu dan Presiden Shimon Peres, Biden menegaskan dukungan total dan absolut Washington (AS) terhadap keamanan Israel (Hidayatullah.com, 22/3/2010).
Menlu AS Hillary Clinton (yang tentu mewakili pemerintahan Obama), dalam kutipan pidatonya di depan konvensi tahunan Komisi Urusan Hubungan AS-Israel–yang dikenal dengan sebutan AIPAC, sebuah lobi kuat yang pro-Israel–di Washington, Senin (22/3) juga meyakinkan Israel, bahwa komitmen AS terhadap keamanan Israel masih “tetap kuat.” (Voanews.com, 22/3/2010).
Kongres AS bahkan menyetujui usulan Presiden Barack Obama untuk mendanai pembangunan Kubah Besi–sistem pertahanan antiroket–milik Israel. Pemungutan suara di Kongres yang digelar pada Kamis (20/5), sebanyak 410 suara mendukung usulan itu dan empat suara menolak. Dengan hasil voting mayoritas ini, dana 205 juta dolar AS sepakat untuk dikucurkan ke Israel. Ini sekaligus membuktikan bahwa pemerintahan AS di bawah Obama tidak ada bedanya dengan pemerintahan AS di bawah George W. Bush dan presiden-presiden AS sebelumnya, yang mendukung penuh Israel. Istilah ”soft power” cuma menjadi ‘gincu’ diplomasi Obama untuk mengelabui Dunia Islam agar tetap berada dalam cengkeraman kepentingan global AS dan lumpuh di hadapan Israel yang biadab.
Penguasa Muslim Hanya Mengecam
Para penguasa dan pemimpin Muslim mengecam tindakan biadab Israel, dalam hal ini terhadap armada kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza ini. “Kami mengutuk kejahatan ini…Setiap orang harus mengutuk tindakan Israel ini," kata Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa, kepada AFP (31/5). Mousa lebih lanjut mengatakan, bahwa 22 anggota Liga Arab saat ini sedang ‘memikirkan’ langkah selanjutnya terhadap Israel.
Pimpinan Otoritas Palestina Mahmud Abbas pun mengecam serangan Israel itu dengan menyebutnya sebagai pembantaian. Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri, juga mengutuk serangan mematikan Israel tersebut yang ia sebut sebagai tindakan yang berbahaya dan gila (31/5). Pemerintah Indonesia pun, melalui Menlu Marty Natalegawa, turut mengecam tindakan Israel ini (Antara, 31/5).
Namun, lagi-lagi para penguasara Arab-Muslim itu hanya mengecam, tidak pernah melakukan langkah nyata, misalnya dengan mengirimkan pasukan dari masing-masing negara mereka untuk melawan kebiadaban Israel. Padahal sudah nyata dan jelas, bangsa ‘kera’ (Yahudi-Israel) ini tidak pernah mengenal bahasa kecaman dan kutukan. Yang paling menyakitkan, penguasa Mesir, Husni Mubarak, tetap enggan membuka satu-satunya pintu masuk ke Gaza, yakni pintu Rafah yang berada dalam kekuasaan Mesir. Rezim Mesir itu tetap tuli dan diam seribu bahasa, sembari dengan tenang dan santainya menyaksikan warga Gaza mati secara perlahan karena blokade dan kekejian Israel.
Perlu dicatat, kepengecutan sikap pemerintah Mesir tidak cukup sampai di sini. Rezim Mesir bahkan meledakkan beberapa terowongan–yang jumlahnya berkisar mulai dari puluhan hingga ratusan–yang menjadi satu-satunya “penghubung” warga Gaza dengan dunia luar. Tindakan keji mereka ini telah memakan korban puluhan pekerja yang sedang mempertaruhkan nyawa mereka untuk mengais sesuap nasi (28/4). Hanya demi alasan kemanan nasional, rezim Mesir enggan memberi akses keluar bagi warga Gaza yang diblokade. Anehnya, pada saat yang sama, rezim Mesir memberikan jalan bagai pesawat-pesawat Israel untuk berkeliaran di perbatasannya, yang nyata-nyata sebelumnya telah menyerang tentara Mesir. Bahkan Mesir selalu memohon izin kepada Israel untuk menambah prajuritnya, sekalipun hanya seorang, untuk ditempatkan di perbatasan. Tampak sekali rezim Mesir bertindak sebagai antek Yahudi-Israel dan AS.
Wahai kaum Muslim:
Belum cukup buktikah bahwa Yahudi-Israel adalah penjahat perang? Belum cukup jelaskah bahwa Amerika Serikat (AS) selalu mendukung setiap kekejian dan kebiadaban Yahudi-Israel atas kaum Muslim di Palestina? Belum cukup terangkah bahwa para penguasa Muslim selama ini membiarkan begitu saja–bahkan memfasilitasi–setiap tindakan biadab dan brutal Israel atas bangsa Palestina?
Wahai kaum Muslim:
Sesungguhnya metode membela Palestina saat ini adalah dengan cara memaksa para penguasa Muslim agar memobilisasi pasukan mereka untuk berjihad. Sebab, Allah SWT telah berfirman:
]قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ [
Perangilah mereka (orang-orang kafir), niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian dan menghinakan mereka (QS at-Taubah [9]: 14).
Allah SWT telah mengecam siapapun yang mengabaikan panggilan jihad ini:
]إِلا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا[
Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih (QS at-Taubah [9]: 39).
Wahai kaum Muslim:
Kekejian dan kebrutalan Yahudi Israel sesungguhnya akan terus berulang. Karena itu, umat ini jelas membutuhkan sebuah institusi negara yang kuat, yang bisa menggabungkan seluruh potensi umat Islam; yakni potensi wilayah yang luas, sumber daya manusia dan tentara yang banyak, sumber daya alam yang melimpah serta–yang lebih penting–sumber ideologi yang sahih dan kokoh. Institusi negara yang kuat dan bisa menyatukan semua potensi itu tidak lain adalah Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.
Khilafahlah yang pasti akan mampu membebaskan Palestina dan menghancurkan institusi Yahudi sekaligus pelindung dan ‘induk semang’-nya, yakni Amerika Serikat. Tanpa adanya institusi negara yang kuat (super power) yang mewujud dalam Negara Khilafah, maka masalah Palestina dan seluruh persoalan yang menimpa umat Islam di seluruh dunia tak akan pernah terselesaikan.
Sebagaimana Khilafah pada masa lalu bisa menjadi pelayan, pengayom dan pelindung umat Islam dari rongrongan dan serangan bangsa-bangsa kafir selama berabad-abad, maka Khilafah pula saat ini dan ke depan yang bisa melakukan hal yang sama. Hanya Khilafahlah yang bisa menghadapi Israel, AS dan sekutu-sekutunyanya, sekaligus membersihkan antek-antek mereka dari seluruh negeri kaum Muslim. Khilafahlah yang akan memimpin dan mengkomandoi 1,5 miliar kaum Muslim di seluruh dunia untuk berjihad. Khilafahlah yang akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan tanah kaum Muslim. Rasulullah saw. telah bersabda:
إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَراَئِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah laksana perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya (HR Muslim).
Sungguh, sekiranya umat ini sadar dan fokus mengembalikan keberadaan Khilafah yang bakal menjadi solusi final atas tragedi Palestina maupun tragedi-tragedi di Dunia Islam lainya, tentu masalahnya tidak akan berlarut-larut seperti saat ini. Karena itu, jangan sekali-kali ragu untuk mendukung para pejuang Khilafah, sekaligus berjuang bersama mereka untuk mewujudkannya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian untuk menuju sesuatu yang menghidupkan kalian (QS al-Anfal [8]: 24). []

Dikirim pada 03 Juni 2010 di Curhat

Wahai Pemimpin, Malukah Engkau ketika Ditanya Oleh Allah akan Pertanggjawabanmu...
Bagaimana para pemimpin umat bisa tidur dengan nyenyak, diatas kasur yang empuk, dan bermimpi dengan berbagai kenikmatan kehidupan dunia? Bagaimana para pemimpin umat ini bisa makan dengan lahap, dan menikmati hidangan diatas nampan, yang diatasnya makanan yang lezat-lezat? Bagaimana para pemimpin umat ini bisa tertawa berderai, diantara para pemimpin yang sedang bertemu di tempat-tempat yang mewah dan sejuk?
Sementara itu, negeri-negeri mereka dirampas, diduduki dan dikuasai musuh-musuh, yang telah melakukan kejahatan dan kebengisan, yang tiada taranya terhadap umat. Anak-anak kehilangan orang tua mereka. Wanita-wanita kehilangan suami mereka. Orang-orang tua menderita sendirian, karena telah kehilangan anak-anak mereka. Mereka tidak lagi memiliki pelindung. Mereka dihinakan dan dihancurkan kehidupannya. Tak ada lagi muru’ah (kemuliaan). Karena negeri mereka diduduki musuh-musuh, yang telah menghinakan dan mencabik-cabik kehidupan mereka.
Tempat-tempat suci umat Islam dijarah, di rusak, dikotori dengan kotoran yang najis, dan didirikan berhala-hala, yang menjadi tempat pemujaan orang-orang musyrik, yang menjadi musuh Allah Azza Wa Jalla. Umat Islam dilarang masuk melakukan ibadah. Umat dilarang mencintai tempat ibadahnya. Umat dilarang menjaga dan melindungi tempat ibadah mereka. Umat ini ditindas, dibunuhi, dan dihancurkan dengan cara-cara yang sangat kejam.
Tetapi hanya sedikit para pemimpin umat ini yang menyadari terhadap keadaan yang ada, bahwa sesungguhnya telah terjadi peperangan yang diciptakan oleh musuh-musuh Allah Azza Wa Jalla, dan mereka menduduki wilayah-wilayah dan negara, yang menjadi hak milih syah kaum muslimin. Allah telah menegaskan kepada umat ini, bahwa,
"Sesungguhnya kaum Musyrikin itu najis”. (At-Taubah : 28).
Masihkah belum cukup terhadap kejadian-kejadian yang ada, yang mereka pertontonkan secara telanjang dihadapan kaum muslimin ini. Kejahatan yang mereka lakukan dengan menggunakan cara-cara yang keji. Mereka bukan hanya merampas harta, kekayaan, dan sarana-sarana hidup yang dimiliki kaum mulimin, tetapi mereka telah membunuhi anak-anak, wanita, dan orang tua, tanpa ada sedikitpun belas kasihan.
Mereka tidak mempedulikan dengan begitu banyaknya kematian yang dialami kaum muslmin. Mereka terus membunuh dan membunuh. Seperti mereka sudah tidak lagi, memiliki sisi-sisi kemanusiaan, yang ada pada diri mereka. Mereka hanya bisa membunuh dan membunuh.
Betapa banyak umat ini yang sudah dibunuh oleh Zionis Israel di tanah yang dberkahi dan dimuliakan oleh Allah Azza, di tanah Palestina? Sampai hari ini, tak berhenti orang-orang Zionis-Israel, yang sudah menduduki tanah Palestina, membunuhi anak-anak, wanita dan orang tua, dan membiarkan penduduk Palestina mati perlahan-lahan, akibat adanya blokade yang sudah mereka lakukan selama tiga tahun.
Berapa banyak kaum muslimin di Iraq yang tewas selama pendudukan Amerika Serikat terhadap negeri ‘1001’ malam itu? Berapa banyak kaum muslimin di Pakistan dan Afghanistan yang tewas akibat serangan pesawat tanpa awak (drone) milik Amerika Serikat?
Negeri-negeri muslim di Afrika, Timur Tengah, Asia, semua porak-poranda, diakibatkan kebengisan dan kejahatan musuh-musuh Allah Azza Wa Jalla, orang-orang kafir dan musyrik. Sepertinya mereka berhak dan syah melakukan kejahatan terhadap umat Ini. Sepertinya mereka boleh melakukan apa saja terhadap umat ini, dan tanpa ada hukuman terhadap mereka.
Sampai kapan keadaan ini boleh berlangsung. Sampai kapan mereka orang-orang kafir dan musyrik itu menjajah, menduduki, dan menguasai serta membunuhi terhadap ummat ini?
Tentu yang menjadi persoalan yang sifatnya asasiah, masih banyak diantara para pemimpin umat yang tidak menyadari tentang kondisi ini. Bahkan, ada diantara mereka yang bekerjasama, dan memberikan wala’nya (loyalitasnya) kepada mereka. Meminta bantuan dan pertolongan, serta menggantungkan hidup mereka kepada musuh-musuh Islam ini.
Allah berfirman :
Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (An-Nisa : 138-139).
Hakekatnya, tak ada lagi, pembicaraan dan negosiasi dengan mereka yang telah terang-terangan memusuhi umat dan Islam ini. Apalagi memberikan wala’nya kepada mereka. Karena semua itu hanyalah akan mengundang murka dari Allah Azza Wa Jalla.
Ibnu Jarir mengatakan, “Orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman penolong dengan maksud mencari kekuatan, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dungu dan tidak sempurna. Dan, justru orang-orang kafir dan musyrik itu hanyalah bertujuan menghancurkan umat Islam, dan menjajahnya. Tidak mungkin mereka ridho dengan kemenangan dan kemuliaan yang akan dicapai umat Islam.
Kemuliaan dan kekuataan hanya dengan cara semata-mata datang dari pertolongan Allah, Dzat yang mempunyai kemuuliaan dan kekuatan, Dzat yang memuliakan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah akan menolong mereka dan memberikan kekuatan kepada mereka, orang-orang mukmin yang thaat. Wallahu’alam.

Dikirim pada 23 Maret 2010 di Curhat

Wahai Para Pemimpin..Umat Muhammad..
Bagaimana para pemimpin umat bisa tidur dengan nyenyak, diatas kasur yang empuk, dan bermimpi dengan berbagai kenikmatan kehidupan dunia? Bagaimana para pemimpin umat ini bisa makan dengan lahap, dan menikmati hidangan diatas nampan, yang diatasnya makanan yang lezat-lezat? Bagaimana para pemimpin umat ini bisa tertawa berderai, diantara para pemimpin yang sedang bertemu di tempat-tempat yang mewah dan sejuk?
Sementara itu, negeri-negeri mereka dirampas, diduduki dan dikuasai musuh-musuh, yang telah melakukan kejahatan dan kebengisan, yang tiada taranya terhadap umat. Anak-anak kehilangan orang tua mereka. Wanita-wanita kehilangan suami mereka. Orang-orang tua menderita sendirian, karena telah kehilangan anak-anak mereka. Mereka tidak lagi memiliki pelindung. Mereka dihinakan dan dihancurkan kehidupannya. Tak ada lagi muru’ah (kemuliaan). Karena negeri mereka diduduki musuh-musuh, yang telah menghinakan dan mencabik-cabik kehidupan mereka.
Tempat-tempat suci umat Islam dijarah, di rusak, dikotori dengan kotoran yang najis, dan didirikan berhala-hala, yang menjadi tempat pemujaan orang-orang musyrik, yang menjadi musuh Allah Azza Wa Jalla. Umat Islam dilarang masuk melakukan ibadah. Umat dilarang mencintai tempat ibadahnya. Umat dilarang menjaga dan melindungi tempat ibadah mereka. Umat ini ditindas, dibunuhi, dan dihancurkan dengan cara-cara yang sangat kejam.
Tetapi hanya sedikit para pemimpin umat ini yang menyadari terhadap keadaan yang ada, bahwa sesungguhnya telah terjadi peperangan yang diciptakan oleh musuh-musuh Allah Azza Wa Jalla, dan mereka menduduki wilayah-wilayah dan negara, yang menjadi hak milih syah kaum muslimin. Allah telah menegaskan kepada umat ini, bahwa,
"Sesungguhnya kaum Musyrikin itu najis”. (At-Taubah : 28).
Masihkah belum cukup terhadap kejadian-kejadian yang ada, yang mereka pertontonkan secara telanjang dihadapan kaum muslimin ini. Kejahatan yang mereka lakukan dengan menggunakan cara-cara yang keji. Mereka bukan hanya merampas harta, kekayaan, dan sarana-sarana hidup yang dimiliki kaum mulimin, tetapi mereka telah membunuhi anak-anak, wanita, dan orang tua, tanpa ada sedikitpun belas kasihan.
Mereka tidak mempedulikan dengan begitu banyaknya kematian yang dialami kaum muslmin. Mereka terus membunuh dan membunuh. Seperti mereka sudah tidak lagi, memiliki sisi-sisi kemanusiaan, yang ada pada diri mereka. Mereka hanya bisa membunuh dan membunuh.
Betapa banyak umat ini yang sudah dibunuh oleh Zionis Israel di tanah yang dberkahi dan dimuliakan oleh Allah Azza, di tanah Palestina? Sampai hari ini, tak berhenti orang-orang Zionis-Israel, yang sudah menduduki tanah Palestina, membunuhi anak-anak, wanita dan orang tua, dan membiarkan penduduk Palestina mati perlahan-lahan, akibat adanya blokade yang sudah mereka lakukan selama tiga tahun.
Berapa banyak kaum muslimin di Iraq yang tewas selama pendudukan Amerika Serikat terhadap negeri ‘1001’ malam itu? Berapa banyak kaum muslimin di Pakistan dan Afghanistan yang tewas akibat serangan pesawat tanpa awak (drone) milik Amerika Serikat?
Negeri-negeri muslim di Afrika, Timur Tengah, Asia, semua porak-poranda, diakibatkan kebengisan dan kejahatan musuh-musuh Allah Azza Wa Jalla, orang-orang kafir dan musyrik. Sepertinya mereka berhak dan syah melakukan kejahatan terhadap umat Ini. Sepertinya mereka boleh melakukan apa saja terhadap umat ini, dan tanpa ada hukuman terhadap mereka.
Sampai kapan keadaan ini boleh berlangsung. Sampai kapan mereka orang-orang kafir dan musyrik itu menjajah, menduduki, dan menguasai serta membunuhi terhadap ummat ini?
Tentu yang menjadi persoalan yang sifatnya asasiah, masih banyak diantara para pemimpin umat yang tidak menyadari tentang kondisi ini. Bahkan, ada diantara mereka yang bekerjasama, dan memberikan wala’nya (loyalitasnya) kepada mereka. Meminta bantuan dan pertolongan, serta menggantungkan hidup mereka kepada musuh-musuh Islam ini.
Allah berfirman :
Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (An-Nisa : 138-139).
Hakekatnya, tak ada lagi, pembicaraan dan negosiasi dengan mereka yang telah terang-terangan memusuhi umat dan Islam ini. Apalagi memberikan wala’nya kepada mereka. Karena semua itu hanyalah akan mengundang murka dari Allah Azza Wa Jalla.
Ibnu Jarir mengatakan, “Orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman penolong dengan maksud mencari kekuatan, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dungu dan tidak sempurna. Dan, justru orang-orang kafir dan musyrik itu hanyalah bertujuan menghancurkan umat Islam, dan menjajahnya. Tidak mungkin mereka ridho dengan kemenangan dan kemuliaan yang akan dicapai umat Islam.
Kemuliaan dan kekuataan hanya dengan cara semata-mata datang dari pertolongan Allah, Dzat yang mempunyai kemuuliaan dan kekuatan, Dzat yang memuliakan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah akan menolong mereka dan memberikan kekuatan kepada mereka, orang-orang mukmin yang thaat. Wallahu’alam.


Dikirim pada 23 Maret 2010 di Curhat
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

"Seorang insan yang terombang-amabing di dalam kehidupan,..yang senantiasa mencari pegangan yaitu Ilmu dan keridhoan dari Robbnya." More About me

Page
BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 473.547 kali


connect with ABATASA