0

Menerangkan Haramnya Melihat Seorang Lelaki Melihat Seorang Perempuan dan Haramnya
Seorang Perempuan Melihat Seorang Lelaki

Firman Allah:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".(30)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(31)

Penglihatan itu adalah anak panah yang beracun dari anak panah iblis. Barang siapa yang meninggalkan pandangan tadi, Maka Alloh akan membenrikan manisnya iman.
Dan Berkata Nabi Isa AS
Takutlah akan namanya penglihatan, sesungguhnya penglihatan itu akan tertanam sahwat, dan akan mencukupkan tambah2 fitnah.

Nabi Daud berkata kepada Nabi Sulaiman
Wahai anakku silahkan berjalan di belakang singa dan ular besar, tapi engkau tidak boleh berjalan di belakang perempuan.

Apa yang memuliai suatu dari perzinahan?
Yang pertama dari melihat seorang perempuan
Dan terbayang2 berzinah dengan perempuan tersebut
Zinah mata itu paling besar dari dosa2 kecil, karena zinah mata itu akan mendekati dosa besar.
Barang siapa yang tidak bisa mencegah matanya, maka dia tidak bisa mencegah kemaluannya.
Imam Fudhel berkata
Berkata iblis, Penglihatan itu suatu alat perang dan yang tidak pernah meleset.

Ummu Mu’minin yaitu Ummu Salma berkata
Sudah pernah meminta izin Abdullah bin Ummi Maktum (orang buta) kepada Nabi Muhammad SAW.
Harus menggunakan penghalang (hijab) kalian berdua. Ummu Salama dan Maimunah berkata “Dia tidak melihat”. Nabi berkata “Apa kalian tidak melihatnya”. Pasti akan mela’nat Alloh kepada yang melihat dan dilihatnya. Tidak boleh kepada seseorang wanita mendohirkan selain kepada seorang suaminya dan mahrom.

Sesungguhnya ditusuknya kepala dengan jarum itu lebih baik daripada menyentuh perempuan yang bukan mahrom.
Harus takut kalian dari berduaan dengan perempuan, dan Nabi Muhammad SAW “Demi Alloh tidaklah seorang berkholwat antara laki2 dan perempuan, maka diantara keduanya datang setan”.

Seorang lelaki menarik babi yang penuh dengan kotoran lebih baik dari pada menarik pundak perempuan.


Wajib kepada perempuan , jika dia bermaksud untuk keluar , maka dia harus menutup badan dan tangannya dari mata2 orang yang akan melihat.

Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Fatimah
Perkara apa yang paling baik bagi perempuan, Fatimah menjawab yakni dengan tidak melihat perempuan kepada seorang laki2 dan sebaliknya. Maka memeluklah Nabi kepada puterinya, Nabi membenarkan perkataan Siti Fatimah.

Penutup Menjelaskan Tingkah laku Seorang Perempuan

Sesunguhnya kelakuan wanita jaman sekarang:
1. telah mengalahkannya perhiasan
2. Sedikitnya rasa malu yakni berjalan dengan sebagian laki2
3. Berjalan menunjuk2 kepada laki2. Bisa memerintah laki2
4. Sedikitnya rasa malu
5. Banyak yang berjualan di pasar
6. Shalat bukan pada sap nya
7. Pergi ke masjid dengan bertujuan penampilkan penampilan.


Nabi Muhammad SAW bersabda
Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.

Diwajibkan kepada orang yang takut kepada Alloh
1. Mencegah kepada isteri kita untuk memakai persiapan yang berlebihan
2. Harus bersungguh2 dari ahlinya di zaman sekarang
3. Tidak boleh menganggap enteng dalam hal menjaga isteri kita, berusaha semampunya
4. Tidak boleh mengijinkan keluar rumah tanpa mahram atau wanita lain yang dipercaya seperti teman wanita dan pembantu sebagainya . Tidak cukup kepada seorang budak menemani isteri kita keluar. Dan jika seperti yang disebutkan tadi, yaitu budak yang tidak dipercaya maka cegahlah isteri kita agar tidak melihat isteri kita jika sudah 15 tahun. Karena pada keumumannya fitnah muncul dari mereka.
Tercatat dalam Ihya Ulumuddin.

Nabi Muhammada bersabda:
Sesungguhnya Aku adalah orang yang paling banyak cemburu, kecuali hatinya telah terbalik.

Saidina Ali berkata: Apakah engkau tidak memiliki rasa malu dan cemburu yakni membiarkan isteri keluar sehingga bertemu dengan lelaki lain, dan melihat lelaki tersebut melihat isteri kita.

JIka keluar isterinya itu dan suka melihat dengan matanya itu dan memegang tangan orang lain yakni bersalaman. Jika wanita saleh, maka dia tidak ridho melakukan itu.

Jika seorang perempuan ingin keluar mengunjungi orangtuanya harus minta izin ma suami dan tidak boleh berhias berlebihan, memakai baju yang menutupi aurat. Menundukan kepala ketika jalan dan tidak boleh melihat ke kanan dan ke kir, jika tidak begitu berarti perempuan tadi berbuat maksiat .

Barang siap perempuan yang suka berhias kepada orang lain terus meninggal, maka di hari kiamat Alloh akan memberikan pakaian yang tipis, dan Alloh memalingkan muka. Alloh mmerintahkan malaikat agar menyeret dia ke neraka.

Hikayat
Telah meminta ijin Syeh Hasan dan teman2nya untuk masuk ke rumahnya dan Siti Robi’ah tertutup hijab. Telah meninggal suami engkau wahai Robi’ah maka pilihlah dari sekalian orang-orang juhud.
Baiklah dengan rasa cinta dan rasa hormat.
Jika ada yang mampu menjawab 4 pertanyaan, maka dia akan jadi suamiku.
Tanyakan, mudah2an Alloh memberikan taupik
1. Apa kalian tahu kalau saya meninggal dalam keadaan muslim atau kafir?
2. Ketika aku di kuburku, apakah aku akan mampu menjawab pertanyaan para malaikat
3. Jikalau manusia dikumpulkan di padang mahsyar, apakah saya dapat tangn kanan atau kiri.
4. Apakah aku akan aka nada di ahli syurga atau neraka


Dan Ada seorang perempan yan soleh apabila dia melakukan suatu kealahan kepada suaminya, maka dia akan menyesal pada saat itu juga. Dan meminta ridho suaminya. Dan harus banyak menangis karena takut dari siksaan Alloh SWT. Memberikan semangat jika suaminya bingung.
Dia pun akan berkata Jikalau ada kebingungan tentang akhirat. Maka kebahagian yang akan diterima.
Jika bingung karena masalah dunia, aku tidak terlalu meminta selama eungkau belum mampu.

Afwan bahasanya mungkin kurang bagus, karena mendengar langsung dicatat bukan didikte...hehe

Dikirim pada 31 Januari 2010 di Risalah Khitbah

Menerangkan tentang Keutamaan Shalat Seorang wanita di rumah


Wanita yang shalat berjama’ah dengan Rasulallah, tidak lebih utama
Isteri Hamid Assyai berkata pada Nabi Sesungguhnya saya lebih senang shalat dengan mu Ya Rasulallah
Nabi menjawab kamu sangat ingin shalat bersama ku, Dan yang jika kamu shalat di bagian rumah kamu yang khusus lebih utama di bagian yang lain rumah kamu, Dan jika kamu shalat di kamar kamu, lebih baik daripada shalat di rumah(Selain kamar). Dan shalat di rumah lebih utama daripada di masjid. Supaya dia mampu memenuhi kewajibannya seorang isteri (menjaga).
Nabi Muhammad SAW bersabda:
Shalat seorang wanita yang sendiri lebih utama daripada shalat berjama’ah di masjid
Nabi Muhammad SAW bersabda:
Alloh menyukai shalat perempuan di dalam rumahnya itu dalam keadaan gelap.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
Sesungguhnya perempuan itu yang keluar dari rumahnya tanpa ada kepentingan atau tanpa udzur, maka akan melihat setan pada wanita itu,
Ada seorang perempuan yang melewati Abu Hurairah dan mencium bau haruman. Lalu bertanya “Kamu mau kemana”, dia menjawab “Saya mau ke masjid”. Dan bertanya lagi”Apakah engkau memakai harum-haruman”
Tidak akan menerima shalatnya seorang wanita yang ke masjid dengan wangi-wangian.
Ketika Nabi duduk di Masjid, tiba2 masuk seorang perempuan dengan menggunakan baju berlebihan dan penampilan yang berlebihan. Maka Nabi Muhammad SAW berkata Wahai kaum laki2, cegahlah oleh kalian istri-istri kalian dari perhiasan mereka dan menyombongkan diri mereka .
Hukum perempuan itu dia telah berzinah dalam hal dosa nya.
Setiap mata yang melihatnya tadi itu berjinah.
Nabi Muhammad SAW:
Datang aku kedalam syurga, aku melihat ahli syurga tuh kebanyakan para fakir, mereka masuk karena kesolehan mereka.
AKu juga berkunjung ke neraka jahanam, maka melihat ahli neraka itu adalah perempuan.
Penyebabnya karena sedikit yang to’at kepada Allioh, Rasul dan suaminya. Selain itu banyak yang pamer (riya) tidak bersyukur. Jika keluar rumah mereka menggunakan pakaian bagus dan suka mempercantik diri dan juga memperbagus diri dan juga keluar mereka itu dengan menyebarkan fitnah.
Nabi Muhammad SAW:
Perempuan itu aurat, tidak boleh secara dhohir melihatnya.
Perempuan lebih dekat dengan Alloh ketika di dalam rumah, dan lebih dekat dengan syetan ketika keluar dari rumah.
Kita harus menahan isteri kita supaya diam di rumah. Karena perempuan itu bila keluar dengan maksud iztiah. Syetan terus menggoda sampai dia masuk ke rumah lagi. Dan tidak bisa mencari keridhoan Alloh kecuali di dalam rumah.
Ciri wanita yang akan masuk neraka yaiu Suka tertawa di hadapan suaminya dan suka menghianati suaminya jika tidak ada.
Sebagian Tanda wanita sholeh:
Cinta karena Alloh
Berqonaah
Dermawan
Membaguskan pelayanannya kepada suami
Selalu mengingat2 akan mati
Alkabair : Keluarnya seorang perempuan tanpa izin suami

Ciri-ciri wanita salihah:
1. Qona’ah
2. Membaguskan pendengaran terhadap suaminya, yakni berkata baik dan ta’at
3. Membaguskan matanya suami dan hidung suami (Jangan samapai dia menciummu kecuali hal yang harum)
4. Menjaga hidung suami
5. Bersiap2 ketika dia makan
6. Bersiap2 ketika mau tidur
7. Menjaga hartanya
8. Mencari cara untuk menghormatinya
9. Tidak boleh menolak perintah suami
10. Menutup aib suami
11. Seorang isteri harus mengembirakan suaminya
Jika sorang perempuan hamil dari suaminya, dan isterinya ridho akan kehamilan itu. Pahalanya seperti orang shaum dan menegakkan agama Allloh (Jihad). Dan jka seorang wanita melahirkan seorang lelaki. Maka dianggap sebagai Qurrota A’yun (Permata hati) oleh mahluk. Dan terus menyusui. Kecuali setiap sedotan bayi itu, satu kebaikan. Jika bayi membangun kan wanita itu di malam dan ikhlas melayani bayinya, pahalanya seperti membebaskan 70 hamba sahaya.


Nabi Muhammad SAW bersabda :
Sesungguhnya apabila seorang lelaki melihat kepada isterinya dan isterinya juga melihat dengan nafsu atau tanpa nafsu maka Alloh akan melihat mereka dengan pandangan rahmat. Terus suaminya memegang tangan isterinya. Maka akan berjatuhan dosa mereka, di antara ujung tangannya. Dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Maksud dari prilaku suaminya adalah untuk kasih saying, megajak ke kasur dan memperbanyak umat.

Nabi Muhammad SAW bersabda :
Sesungguhnya seorang lelaki yang menjima isterinya, maka akan menuliskan karena jima itu yaitu ganjaran seorang yang mati sahid di medan perang.
Tujuan Memperbanyak anak
1. Cinta kepada Alloh SWT
2. Menunjukan cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW
3. Mencari keberkahan supaya mendapat anak shaleh
4. Mencari syafaat bila ada anak kecil yang meninggal

Dikirim pada 31 Januari 2010 di Risalah Khitbah


MENANYAKAN KELUARGA DAN PEMAHAMAN AGAMA CALON ISTERI




SOAL :
Bolehkah dalam rangka ta’aruf (saling mengenal) seorang pria menanyakan perihal keluarga dan pemahaman Islam calon isterinya? Apakah sebaliknya juga dibolehkan, yaitu pihak perempuan menanyakan perihal keluarga dan pemahaman Islam calon suaminya? (Eksi, Yogyakarta)
JAWAB :
Upaya untuk mengenal lebih dalam calon isteri, dengan tujuan mengetahui apakah ia mempunyai sifat-sifat ideal yang ditunjukkan syara’, hakikatnya boleh (mubah) secara syar’i. Namun disyaratkan bahwa cara yang dilakukan tidak bertentangan dengan syara’. Dengan kata lain, tidak boleh dilakukan dengan cara yang haram, misalnya berkhalwat (berdua-duaan secara menyendiri).
Upaya memahami fakta calon isteri itu dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan istilah tahqiqul manath, yaitu aktivitas untuk memeriksa fakta yang akan dihukumi, apakah fakta itu cocok atau tidak dengan hukum syara’ yang telah diketahui sebelumnya (Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, III/337-338; Imam Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Ahkam, II/23-24). Contohnya, telah diketahui bahwa khamr itu haram (QS 5:90). Maka upaya meneliti suatu minuman apakah ia tergolong khamr atau tidak, adalah tahqiqul manath. Contoh lain, telah diketahui air yang boleh digunakan untuk berwudhu adalah air mutlak. Maka upaya untuk mengetahui suatu air apakah termasuk air mutlak atau tidak, disebut tahqiqul manath. Contoh lain lagi, sudah dipahami orang yang berhadats (muhdits) wajib untuk berwudhu. Maka kegiatan memeriksa keadaan seseorang apakah termasuk orang berhadats atau tidak, dinamakan tahqiqul manath. Contoh berikutnya, sudah dimaklumi kalau sholat itu wajib menghadapi kiblat. Maka upaya untuk mengetahui suatu arah apakah ia arah kiblat atau bukan, merupakan aktivitas tahqiqul manath. Demikianlah seterusnya.
Jadi, tahqiqul manath merupakan langkah pendahuluan untuk memahami fakta yang ada, agar hukum syara’ yang telah diketahui sebelumnya dapat diterapkan secara tepat atas fakta itu. Selain itu, tahqiqul manath juga diperlukan seorang mujtahid sebagai langkah pendahuluan untuk memahami fakta yang akan dihukumi (tapi hukumnya belum ada), agar selanjutnya ia dapat mengistinbath hukum syara’ yang relevan (inthibaq) dengan fakta yang ada (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, III/340-341).
Jika dicermati, tahqiqul manath itu sebenarnya merupakan sekumpulan cara (uslub) atau sarana (alat/wasilah) untuk memahami fakta. Misalnya untuk mengetahui suatu minuman tergolong khamr atau tidak, dapat dilakukan dengan mencium baunya, melihat buihnya, atau memeriksanya di laboratorium dengan serangkaian uji-uji kimiawi. Untuk mengetahui suatu air tergolong air mutlak atau tidak, dapat dilakukan dengan melihat warnanya, mencium baunya, atau mengecap rasanya. Dapat juga dengan bertanya kepada orang yang sudah mengetahui perihal air tersebut, dan sebagainya. Untuk mengetahui arah kiblat di suatu tempat, dapat dengan bertanya kepada orang yang tinggal di tempat tersebut. Dapat pula dengan cara melihat posisi matahari, atau melihat bintang-bintang di langit, atau tanda-tanda alam lainnya. Demikianlah seterusnya.
Ditinjau dari segi ini, maka hukum tahqiqul manath itu sendiri adalah hukum uslub dan wasilah, yaitu mubah, selama tidak bertentangan dengan syara’. Terhadap uslub dan wasilah ini berlakulah kaidah syara’ : Al-ashlu fiimaa yandariju tahta qauli ar-rasuuli antum a’lamu bi umuuri dun-yaakum al-ibahah (Hukum asal untuk segala sesuatu [cara dan alat] yang terkategori dalam sabda Rasul Antum a’lamu bi umuuri dun-yaakum, adalah boleh). Dalil dari kaidah itu adalah sabda Nabi SAW : Antum a’lamu bi umuuri dun-yaakum (Kalian lebih mengetahui urusan-urusan dunia kalian) (HR. Muslim).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka seorang pria yang hendak menikahi seorang perempuan, boleh menanyakan keadaan perempuan tersebut, misalnya keluarganya, pemahaman agamanya, dan sebagainya. Itu semua adalah termasuk tahqiqul manath untuk mengetahui sifat ideal calon isteri. Hal ini pada dasarnya mubah, dengan syarat selama caranya tidak melanggar syara’.
Dalam masalah sifat ideal calon isteri itu, Nabi SAW suatu saat berkata kepada Jabir bin Abdillah RA,”Hai Jabir, kamu menikah dengan perawan atau janda?’ Jabir menjawab,’Dengan janda, wahai Rasulullah.’ Rasulullah pun bersabda,’Mengapa kamu tidak menikah dengan perawan saja, [sebab] kamu akan dapat bermain-main (bergurau) dengannya, dan ia pun akan dapat bermain-main denganmu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa`i, dan disahihkan oleh Al-Hakim. Lihat Syaikh Abdurrahman Al-Baghdadi, Emansipasi Adakah Dalam Islam, hal. 105)
Dalam hadits lain, Nabi SAW bersabda,”Tazawwajul waduuda al-waluuda fa`inniy mukaatsirun bikumul umama yaumal qiyamah!” (Nikahilah perempuan yang kamu cintai dan yang subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya kamu di antara umat-umat lainnya pada Hari Kiamat nanti.) (HR. Ahmad, dari Anas bin Malik RA; Lihat Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, III/111).
Nabi SAW bersabda pula,”Tunkahul mar`tu li-arba’in : limaaliha, wa li-jamaaliha, wa li-hasabiha, wa li-diiniha, fazhfar bi dzzatid diin taribat yadaaka.” (Perempuan itu dinikahi karena empat alasan; karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan karena agamanya. Pilihlah perempuan yang beragama (salehah) semoga engkau selamat.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah RA. Lihat Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, III/111).
Berdasarkan dalil-dalil di atas, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani mengistinbath hukum syara’, bahwa mandub (sunnah) hukumnya seorang lelaki menikah dengan perempuan yang : (1) perawan (al-bikr), (2) subur (al-waluud), (3) beragama dengan baik (salehah) (dzaatu al-diin), (4) cantik (jamilah), (5) dari keturunan orang baik-baik/takwa (dzaatu hasab wa nasab) (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’iy fi Al-Islam, 1990, hal.110).
Nah, setelah dalil dan hukumnya jelas, sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana kita tahu kalau seorang perempuan betul-betul mempunyai sifat-sifat tersebut? Di sinilah perlunya tahqiqul manath tadi. Selama tidak melanggar hukum syara’, proses tahqiqul manath dibolehkan.
Misalnya, untuk mengetahui seorang perempuan itu perawan atau tidak, perlu diteliti dahulu apa betul faktanya demikian. Ada berbagai cara. Misalnya dengan bertanya langsung kepada yang bersangkutan, atau bertanya kepada kawan-kawan dan keluarganya terdekat. Atau kepada dokter kandungan yang pernah memeriksanya, dan sebagainya. Tentu, haram hukumnya lelaki tadi memeriksa dengan cara berkhalwat dan (maaf) membuktikan keperawanannya secara langsung dengan berjima’. Ini haram dan jelas merupakan kebodohan yang nyata.
Untuk mengetahui seorang perempuan subur atau tidak, dapat diketahui dengan cara mencari tahu tingkat kesuburan ibunya, bibi-bibinya, saudara-saudara perempuannya, dan seterusnya (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’iy fi Al-Islam, 1990, hal.110). Tentu, haram hukumnya lelaki tadi membuktikan kesuburannya secara langsung dengan berjima’ dan kemudian membuktikan apakah ia memang dapat hamil atau tidak. Ini perbuatan ngawur dan haram hukumnya.
Untuk mengetahui seorang perempuan itu salehah atau tidak, dapat ditempuh berbagai cara. Misalnya dengan mengamati perilakunya sehari-hari. Atau bertanya kepada sahabat-sahabat terdekatnya. Atau dengan berbicara langsung kepadanya untuk menguji sejauh mana kepahamannya akan agama Allah ini. Tentu saja tidak dibolehkan ada hal-hal yang diharamkan dalam pembicaraan tersebut, misalnya dilakukan dengan berkhalwat atau saling merayu, menggoda, dan sejenisnya. Tidak boleh pula perempuan itu diajak jalan-jalan pergi ke suatu tempat (misalnya pantai, bioskop, kafe) dengan hujjah untuk melakukan “pendalaman kepribadian”. Ini tentu dalih palsu dan jelas haram.
Untuk mengetahui seorang perempuan cantik atau tidak, dapat ditempuh berbagai jalan. Misalnya melihat langsung, dan ini memang ada dalil hadits yang memperbolehkannya (H.S.A. Al-Hamdani, Risalah Nikah : Hukum Perkawinan Islam, hal. 26-27). Hal ini dilakukan sebelum khitbah (melamar/meminang) baik dengan izin maupun tanpa izin perempuan yang bersangkutan (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, III/113; Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’iy fi Al-Islam, 1990, hal.41). Atau dengan cara melihat fotonya, mengirim utusan [perempuan] yang dipercaya, dan sebagainya. Tentu tidak dibolehkan membuktikan kecantikan dengan cara berdua-duaan di kamar kost guna melakukan “pengamatan” yang “seksama” dan “ilmiah”. Jelas ini hanya hawa nafsu dan haram hukumnya.
Demikian pula untuk mengetahui apakah seorang perempuan itu berasal dari keturunan orang baik-baik (takwa), dapat ditempuh dengan macam-macam cara. Misalnya dengan mencari tahu siapa bapaknya, apakah bapaknya koruptor atau bukan, misalnya. Penjudi atau bukan, pemabok atau bukan. Demikian pula perlu dicari tahu perihal ibunya, saudara-saudara perempuan itu, dan sebagainya. Semua itu dalam rangka mencari informasi mengenai lingkungan keluarga perempuan itu, apakah ia terbiasa hidup di tengah keluarga baik-baik, atau di tengah keluarga yang bejat dan bobrok. Tentu tidak dibolehkan mencari tahu apakah bapaknya penjudi atau pemabok, dengan jalan mengajaknya berjudi dan pesta minuman keras. Itu tindakan sembrono dan jelas haram.
Walhasil, secara ringkas, semua upaya untuk mengetahui keadaan calon isteri merupakan upaya tahqiqul manath yang dibolehkan syara’. Namun dengan syarat, cara yang ditempuh wajib sesuai dengan syara’. Jika tidak sesuai syara’, hukumnya haram.
Adapun pertanyaan kedua, yaitu bolehkah pihak perempuan menanyakan perihal keluarga dan pemahaman Islam calon suaminya, maka jawabnya boleh dengan syarat cara yang ditempuh tidak bertentangan dengan syara’.
Upaya itu dibolehkan sebab ia juga merupakan tahqiqul manath untuk menerapkan suatu ketentuan syara’ mengenai sifat ideal calon suami, yaitu lelaki itu hendaknya orang yang saleh/takwa, bukan orang kafir atau fasik, sebagaimana diterangkan dalam berbagai dalil (Lihat Imam As-Suyuthi, “Fi Ayyi Ar-Rijaal Khair li At-Tazwiij wa Ayyuhum Syarr”, Nuzhatul Muta`ammil wa Mursyidul Muta`ahhil, hal. 45-47).
Dalam satu hadits, Nabi SAW berkata kepada para wali perempuan,”Idzaa ataakum man tardhauna khuluqahu wa diinahu fazawwijuuhu, in lam taf’aluu takun fitnatun fil ardhi wa fasaadun ‘ariidh.” (Jika datang kepadamu siapa saja [lelaki] yang kamu ridhai agamanya dan akhlaknya, maka kawinkanlah [anak perempuanmu] dengannya. Jika kalian tidak mengerjakannya [menolak lelaki saleh itu dan menikahkan dengan lelaki fasik] maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar). (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, dari Abu Hurairah RA. Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Ja’mi’ush Shaghir, Juz I hal. 16).
Pernah seorang laki-laki datang kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan bertanya,”Saya punya anak perempuan, menurut pendapatmu dengan siapa anak perempuan saya harus saya kawinkan?” Hasan menjawab,”Kawinkanlah ia dengan laki-laki yang bertakwa kepada Allah. Kalau lelaki itu mencintainya, ia akan memuliakannya. Kalau tidak cinta, ia tidak akan menzaliminya.” (Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fiqih Wanita (terj.), hal. 361).
Berdasarkan itu, jelas bahwa lelaki ideal calon suami haruslah orang saleh/takwa. Bukan lelaki kafir (misalnya orang Kristen), lelaki murtad (seperti penganut Ahmadiyah) atau lelaki fasik (misalnya laki-laki koruptor, pemabok, penjudi, tukang zina; atau berpaham sesat misalnya aktivis Islam Liberal).
Lalu, bagaimana seorang perempuan bisa mengetahui bahwa calon suaminya adalah laki-laki yang baik? Di sinilah seorang perempuan pun, dapat melakukan tahqiqul manath. Perempuan itu berhak memeriksa kualitas kepribadian calon suaminya dengan cara-cara yang dibenarkan syara’. Misalnya dengan bertanya langsung kepada yang bersangkutan, atau bertanya kepada teman-temannya, keluarganya, dan sebagainya. Tentu tidak dibolehkan proses itu dilakukan dengan cara yang haram, misalnya dengan berkhalwat dan sebagainya.
Demikianlah jawaban kami. Semoga penjelasan sederhana ini dapatlah kiranya sedikit membantu menjawab masalah yang ada. Allah jua yang memberi taufik kepada jalan yang lurus. Wallahu a’lam bi al-shawab. [ ]

Dikirim pada 30 Agustus 2009 di Risalah Khitbah


MENGKHITBAH LANGSUNG TANPA MELALUI WALI

Tanya :

Kalau seorang laki-laki meminta seorang wanita untuk menikah dengannya tanpa melalui wali si wanita itu, apakah sudah termasuk khitbah? Apa hukumnya? (081328473234)

Jawab :

Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu diketahui lebih dahulu pengertian khitbah (melamar / meminang). Dalam kitab Al-Khitbah Ahkam wa Adab karya Syaikh Nada Abu Ahmad hal. 1, pada bab Definisi Khitbah (Tarif Khitbah), diterangkan pengertian syari (al-mana asy- yari) dari khitbah sebagai berikut.
التماس الخاطب النكاح من المخطوبة أو من وليها
"[Khitbah adalah] permintaan menikah dari pihak laki-laki yang mengkhitbah kepada perempuan yang akan dikhitbah atau kepada wali perempuan itu." (Mughni Al-Muhtaj, 3/135).
Dari definisi tersebut, jelaslah bahwa seorang laki-laki boleh hukumnya mengkhitbah perempuan secara langsung kepadanya tanpa melalui walinya. Boleh juga laki-laki tersebut mengkhitbah perempuan tersebut melalui wali perempuan itu. Dua-duanya dibolehkan secara syari dan dua-duanya termasuk dalam pengertian khitbah. Keduanya dibolehkan karena terdapat dalil-dalil As-Sunnah yang menunjukkan kebolehannya.
Dalil bolehnya laki-laki mengkhitbah perempuan secara langsung tanpa melalui walinya, adalah hadits riwayat Ummu Salamah RA, bahwa dia berkata :
"Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah SAW mengutus Hathib bin Abi Balthaah kepadaku untuk mengkhitbahku bagi Rasulullah SAW..." (Arab : lamma maata Abu Salamata arsala ilayya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallama Haathiba bna Abi Baltaah yakhthubuniy lahu shallallahu alaihi wa sallama). (HR Muslim).
Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa Rasulullah SAW langsung mengkhitbah Ummu Salamah RA, bukan mengkhitbah melalui wali Ummu Salamah RA.
Sedang dalil bolehnya laki-laki mengkhitbah perempuan melalui walinya, adalah hadits riwayat Urwah bin Az-Zubair RA, dia berkata :
"Bahwa Nabi SAW telah mengkhitbah Aisyah RA melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq RA…" (Arab : anna an-nabiyya shallallahu alaihi wa sallama khathaba Aisyata radhiyallahu anhaa ilaa Abi Bakrin radhiyallahu anhu) (HR Bukhari).
Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa Rasulullah SAW telah mengkhitbah Aisyah RA melalui walinya, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. (Lihat Syaikh Nada Abu Ahmad, Al-Khitbah Ahkam wa Adab, hal. 3).
Perlu kami tambahkan, dalam mengkhitbah dibolehkan seorang laki-laki mewakilkan kepada orang lain untuk mengkhitbah, sebagaimana dibolehkan pula laki-laki itu sendiri yang mengkhitbah (tanpa mewakilkan). (Lihat Yahya Abdurrahman, Risalah Khitbah, Bogor : Al-Azhar Pess, 2007, hal. 177).
Kebolehan ini didasarkan pada keumuman dalil-dalil wakalah (akad perwakilan), di samping diperkuat pula dengan dalil-dalil As-Sunnah yang telah kami kemukakan di atas. Pada saat mengkhitbah Ummu Salamah RA, Rasulullah SAW mengirim utusan (wakil) beliau yaitu Hathib bin Abi Balthaah RA. Adapun pada saat mengkhitbah Aisyah RA, Rasulullah SAW tidak mewakilkan melainkan langsung mengkhitbah sendiri kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sebagai wali Aisyah RA.
Dengan demikian, jelaslah bahwa syara membolehkan khitbah disampaikan langsung kepada pihak perempuan atau disampaikan kepada wali perempuan itu. Wallahu alam [ ]

Dikirim pada 30 Agustus 2009 di Risalah Khitbah
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

"Seorang insan yang terombang-amabing di dalam kehidupan,..yang senantiasa mencari pegangan yaitu Ilmu dan keridhoan dari Robbnya." More About me

Page
BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 495.235 kali


connect with ABATASA