0



Pak Ustad, saat ini sedang ribut ada film yang pesan ceritanya menunjukkan "murtad sebagai hal biasa�. Sebenarnya apa sih hukum murtad dalam Islam?
Wass, Sholihah

Jawab :
Bismillah,
Allah menyitir dalam al-Quran yang artinya:
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.“ (QS Al Baqarah: 217 )

Pengertian Murtad (riddah):

Riddah secara bahasa adalah kembali ke belakang, sebagaimana firman Allah swt :

Dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS Al Maidah : 21 )

Adapun pengertian Riddah secara syar’I para ulama berbeda di dalam mendefinisikannya, diantaranya sebagai berikut :

Berkata Al Kasani ( w : 587 H ) dari madzhab Hanafi :

Riddah adalah mengucapkan kata-kata kekafiran setelah dia beriman.“ (Bada’I Shonai’ : 7/134 )

Berkata : As Showi ( w : 1241 H ) dari madzhab Maliki :

Riddah adalah seorang Muslim yang kembali menjadi kafir dengan perkataan yang terang-terangan, atau perkataan yang membawa kepada kekafiran, atau perbuatan yang mengandung kekafiran.“ ( Asyh As Shoghir : 6/144 )

Berkata Imam Nawawi ( w : 676 H ) dari madzhab Syafi’i :

Riddah adalah memutus Islam dengan niat atau perkataan, atau dengan perbuatan, baik dengan mengatakan hal tersebut karena mengolok-ngolok, atau karena ngeyel, atau karena keyakinannya.“ (Minhaj ath-Thalibin : 293)

Berkata Al Bahuti dari madzhab Hambali :

“Al Murtad secara syar’I yaitu seseorang yang kafir sesudah Islam, baik dengan perkataan, keyakinan, keragu-raguan, ataupun dengan perbuatan.“ (Kasyaf a Qina’ : 6/136 )

Dari beberapa pengertian di atas bisa disimpulkan bahwa Riddah adalah :

“Kembalinya seorang Muslim yang berakal dan baligh menjadi kafir kembali dengan penuh kesadaran tanpa ada paksaan dari seseorang, baik itu melalui keyakinan, perkataan, maupun perbuatannya. “


Macam-macam Riddah:

Jika kita mengambil pengertian Iman dari para ulama salaf yang menyebutkan bahwa Iman mencakup perkataan dan perbuatan, maksudnya adalah perkataan hati dan anggota badan, serta perbuatan hati dan badan. Maka Riddah pun demikian mencakup empat hal sebagaimana dalam keimanan. Keterangannya sebagai berikut:

Pertama: Riddah dengan perkataan hati; seperti mendustakan firman-firman Allah, atau menyakini bahwa ada pencipta selain Allah swt.

Kedua: Riddah dengan perbuatan hati, seperti : membenci Allah dan Rasul-Nya, atau sombong terhadap perintah Allah. Seperti yang dilakukan oleh Iblis ketika tidak mau melaksankan perintah Allah swt untuk sujud kepada Adam, karena kesombongannya.

Ketiga: Riddah dengan lisan : seperti mencaci maki Allah dan Rasul-Nya, atau mengolok-ngolok ajaran Islam.

Keempat: Riddah dengan perbuatan : sujud di depan berhala, menginjak mushaf.

Seorang Muslim menjadi murtad, jika melakukan empat hal tersebut sekaligus, ataupun hanya melakukan salah satu dari keempat tersebut.

Kapan Seorang Muslim dikatakan Murtad?

Jika dilakukan atas kehendaknya dan kesadarannya. Adapun jika dipaksa maka tidak termasuk dalam katagori murtad. Sebagaimana firman Allah swt :

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” ( Qs An Nahl : 106 )

Bagaimana dengan rasa was-was ?

Adapun rasa was-was yang ada di dalam hati, maka itu tidak mempengaruhi keimanan seseorang selama dia berusaha untuk mengusirnya. Kita dapatkan para sahabat pernah merasakan seperti itu juga, sebagaimana dalam hadist Abdullah bin Mas’ud ra, bahwasanya ia berkata :

"Nabi saw pernah ditanya mengenai perasaan waswas, maka beliau menjawab: \�Itu adalah tanda keimanan yang murni (benar)." ( HR Muslim )

Hal ini dikuatkan dengan hadist Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah sw :

"Manusia senantiasa bertanya-tanya hingga ditanyakan, �Ini, Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah�, maka barangsiapa mendapatkan sesuatu dari hal tersebut, maka hendaklah dia berkata, �Aku beriman kepada Allah."( HR Muslim )

Hukum Murtad

Orang yang murtad boleh dibunuh dan halal darahnya. Jika telah dijatuhi hukuman mati, maka tidak dimandikan dan disholatkan serta tidak dikuburqan di kuburan orang-orang Islam, tidak mewarisi dan tidak diwarisi. Tetapi hartanya diambil dan disimpan di Baitul Mal kaum Muslimin.

Dalilnya adalah Abdullah bin Mas’ud ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :

“Tidak halal darah seorang Muslim yang telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah, kecuali dari tiga orang berikut ini; seseorang yang murtad dari Islam dan meninggalkan jama\�ah, orang yang telah menikah tapi berzina dan seseorang yang membunuh orang lain.\" ( HR Muslim )

Ini dikuatkan dengan hadits Ikrimah, bahwasanya ia berkata :

“Beberapa orang Zindiq diringkus dan dihadapkan kepada Ali ra, lalu Ali membakar mereka. Kasus ini terdengar oleh Ibnu Abbas, sehingga ia berkata : Kalau aku, tak akan membakar mereka karena ada larangan Rasulullah saw yang bersabda: "Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah, " dan aku tetap akan membunuh mereka sesuai sabda Rasulullah saw : "Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah!" (HR Bukhari )

Dikuatkan juga dengan hadist Mu’adz bin Jabal :
“Suatu kali Mu�adz mengunjungi Abu Musa, tak tahunya ada seorang laki-laki yang diikat. Mu�adz bertanya; "Siapa laki-laki ini sebenarnya? Abu Musa menjawab "Dia seorang yahudi yang masuk Islam, kemudian murtad. Maka Mu�adz menjawab; "Kalau aku, sungguh akan kupenggal tengkuknya." ( HR Bukhari )

Jika seseorang murtad, maka dia harus dipisahkan dari istrinya pada waktu itu juga. Imam as-Sarakhsi al-Hanafi (w 483 H) berkata : “Seorang Muslim apa bila ia murtad, maka istrinya harus dipisahkan darinya. Baik istrinya tersebut seorang Muslimah ataupun seorang ahli ktab, baik istrinya tersebut telah digauli atau belum”. ( al-Mabsuth : 5/49 )

Apakah Diberi Waktu Untuk Bertaubat ?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, tetapi mayoritas ulama mengatakan harus diberi waktu untuk taubat. Karena orang murtad kadang ada syubhat yang ada pada dirinya mengenai Islam, sehingga dia murtad, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu. Jika diberi waktu untuk taubat, dan dia tidak bertaubat, maka boleh dibunuh.

Sebagian ulama mengatakan waktu taubat adalah tiga hari, sebagian yang lain mengatakan tidak harus tiga hari, tetapi tawaran untuk bertaubat hendaknya terus dilakukan, jika tidak ada harapan untuk taubat, maka boleh dibunuh.

Taubat Orang Murtad

Orang yang sudah murtad, jika bertaubat, apakah taubatnya diterima ? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dijelaskan bahwa orang yang murtad terkena hukum dunia dan akherat. Adapun rinciannya sebagai berikut :

Pertama : Hukum di Akherat

Untuk hukum di akherat, pada dasarnya Allah swt akan menerima setiap hamba-Nya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, ini sesuai dengan firman Allah swt :

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu ." ( Qs Al Anfal : 38 )

Hal ini dikuatkan dengan hadits Amru bin Ash, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepadanya :

" Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam telah menghapuskan dosa yang telah terdahulu, dan bahwa hijrah juga menghapuskan dosa yang terdahulu, dan haji juga menghapuskan dosa yang terdahulu. “ ( HR Muslim )

Ayat dan hadist di atas menunjukkan orang-orang kafir asli yang bertaubat dan masuk Islam, maka Allah akan menerima taubat mereka, dan seluruh dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah swt. Mereka tidak diwajibkan menggantikan kewajiban yang mereka tinggalkan selama ini, seperti sholat dan puasa. Adapun hal-hal yang berhubungan dengan hak manusia, seperti harta curian, maka harus dikembalikan kepada yang berhak. Dalilnya adalah hadist Mughirah bin Syu’bah :

“Dahulu Al Mughirah di masa jahiliyah pernah menemani suatu kaum, lalu dia membunuh dan mengambil harta mereka. Kemudian dia datang dan masuk Islam. Maka Nabi saw berkata saat itu: "Adapun keIslaman maka aku terima. Sedangkan mengenai harta, aku tidak ada sangkut pautnya sedikitpun" (HR Bukhari No : 2529)

Adapun orang yang murtad, jika bertaubat, maka taubatnya diterima dan dia harus menggantikan ibadah-ibadah yang dia tinggalkan selama ini, seperti sholat dan puasa. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik mengatakan jika dia taubat, maka dia harus haji kembali seakan-akan dia baru masuk Islam. Adapun Imam Syafi’I berpendapat bahwa jika dia bertaubat tidak ada kewajiban mengulangi hajinya kembali.

Diantara dalil yang menunjukkan diterimanya taubat orang yang murtad adalah firman Allah swt :

“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la\�nat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la\�nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Qs Ali Imran : 86-89 )


Bagaimana penafsiran ayat –ayat yang menunjukan bahwa orang yang murtad itu tidak diterima taubatnya ?, sebagaimana di dalam firman Allah swt :

“Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” ( Qs Ali Imran : 90-91 )

Begitu juga di dalam firman Allah swt :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” ( Qs Ali Imran : 137 )

Maka jawabannya bahwa yang dimaksud ayat di atas adalah orang yang murtad, kemudian tidak mau bertaubat , bahkan bertambah kekafirannya, maka Alah tidak akan menerima taubatnya sesudah mati.

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya ( 1/ 753 ) : “ Allah swt menyebutkan bahwa orang yang sudah beriman kemudian murtad, kemudian beriman lagi, kemudian murtad lagi dan terus menerus dalam kemurtadan, sampai mati, maka tidak ada taubah sesudah kematiaanya, dan Allah tidak mengampuninya “.

Kemudian beliau menukil perkataan Ibnu Abbas tentang bunyi ayat di atas :+E �2/�/H� CA1�, maksudnya adalah: “ masih di dalam kekafirannya sampai mati “. Begitu juga pendapat Mujahid.

Ibnu Taimiyah di dalam Majmu al Fatawa ( 16/28-29 ) menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak diterima taubat mereka pada ayat di atas adalah kemungkinan karena mereka orang-orang munafik, atau karena mereka bertaubat tapi masih melakukan perbuatan syirik, atau amalan mereka tidak diterima setelah mereka mati. Sedangkan mayoritas ulama seperti Hasan Basri, Qatadah dan Atho’, serta As Sudy mengatakan bahwa taubat mereka tidak akan diterima, karena mereka bertaubat dalam keaadan sakaratul maut. Ini sesuai dengan firman Allah swt :

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : \"Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.\" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” ( Qs An-Nisa’ : 18 )

Kedua : Hukum di Dunia :

Untuk hukum di dunia para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan status hukum orang murtad yang sudah bertaubat.

Pendapat Pertama : Jika seorang yang beriman kemudian kemudian murtad, dan kembali ke Islam kemudian murtad kembali dan hal itu terulang berkali-kali, maka taubatnya tidak diterima oleh pemerintahan Islam, dan dia terkena hukuman mati.

Pendapat Kedua : Jika seorang yang beriman kemudian murtad dan hal itu terulang-ulang terus, maka taubatnya tetap diterima oleh pemerintahan Islam dan dia dianggap Muslim lagi dan boleh hidup bersama-sama orang-orang Islam yang lain, serta berlaku hukum-hukum Islam terhadapnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu pendapat Hanafiyah, masyhur dari Malikiyah, Syafi’iyah dan salah satu pendapat imam Ahmad . ( lihat Tabyin al Haqaiq 3/284, Tuhfatul Muhtaj : 9/96, Kasya’ qina’ : 6/177-178 )

Dalm masalah ini, Ibnu Taimiyah membagi Riddah menjadi dua, yaitu Riddah Mujaradah ( murtad ringan ), kalau dia bertaubat, maka hukuman mati menjadi gugur darinya. Yang kedua adalah Riddah Mugholladhah ( murtad berat ), dia tetap dihukum mati walaupun sudah bertaubat ( Shorim Maslul : 3/ 696 )

Berkata Ibnu Qudamah di dalam al Mughni ( 12/271 ) : “ Kesimpulannya, bahwa perbedaan para ulama hanyalah di seputar diterimanya taubat orang yang murtad secara lahir di dunia ini, begitu juga gugurnya hukuman mati dan berlakunya hukum-hukum Islam baginya. Adapun diterimanya taubatnya oleh Allah secara batin, dan diampuninya orang yang bertaubat secara lahir dan batin, maka para ulama tidak berselish pendapat dalam masalah-masalah tersebut. “
.

Sebab-sebab terjadinya Riddah

1. Kebodohan.

Kebodohan menjadi penyebab utama adanya gelombang pemurtadan, karena mereka tidak dibentengi dengan ilmu. Oleh karena itu salah satu cara yang efektif untuk mmengantisapi pemurtadan adalah dengan menyebarkan aqidah dan ilmu yag benar di kalangan masyarakat.

Syekh al-Bakri ad-Dimyathi (w 1310 H) berkata: “Ketahuilah bahwa banyak orang-orang awam yang mengucapkan kata-kata kufur tanpa mereka sadari, bahwa sebenarnya hal itu adalah bentuk kekufuran. Maka wajib atas bagi orang yang berilmu untuk menjelaskan kepada mereka mereka hal-hal yang menyebabkan kekafiran tersebut, supaya mereka mengetahuinya, kemudian bisa menghindarinya. Dengan demikian maka amalan mereka tidak menjadi sia-sia, dan tidak kekal di dalam neraka (bersama orang-orang kafir) dalam siksaan besar dan adzab yang sangat pedih.

Sesungguhnya mengenal masalah-masalah kufur itu adalah perkara yang sangat penting, karena seorang yang tidak mengetahui keburukan maka sadar atau tidak, ia pasti akan terjatuh di dalamnya. Dan sungguh setiap keburukan itu sebab utamanya adalah kebodohan dan setiap kebaikan itu sebab utamanya adalah ilmu, maka ilmu adalah petunjuk yang sangat nyata terhadap segala kebaikan, dan kebodohan adalah seburuk-buruknya teman (untuk kita hindari)”. ( I’anah ath-Thalibin: 4/133)

2. Kemiskinan.

Pemurtadan seringkali terjadi pada daerah-daerah miskin dan terkena bencana. Banyak kaum Muslimin yang mengorbankan keyakinan mereka hanya untuk sesuap nasi dan sebungkus supermi.

3. Tidak adanya pemerintahan Islam

Hilangnya pemerintahan Islam yang menegakkan syariat Allah membuat musuh-musuh Islam leluasa melakukan pemurtadan dan penyesatan terhadap umat Islam. Begitu juga umat Islam tidak akanberani main-main dengan agamanya. Berikut ini beberapa bukti bahwa pemerintahan Islam mempunyai peran penting di dalam menghentikan gelombang pemurtadan :

Para Khulafa’ Rasyidin menegakan memerangi orang-orang yang murtad danmenghukumi mereka dengan hukuman mati, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Siddiq terhadap Musailamah al-Kadzab dan para pengikutnya.

Begitu juga yang dilakukan oleh Khalifah Al Mahdi, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir pada peristiwa yangterjadi pada tahun 167 H : “ Khalifah Mahdi memburu orang-orang yang murtad kemana saja mereka bersembunyi, mereka yang tertangkap dibawa kehadiran-nya dan dibunuh di depannya . “ ( al Bidayah wa an Nihayah 10/149 )

Begitu juga pada tahun 726 H, Nashir bin as Syaraf Abu Al Fadhl al Haitsami dihukum mati karena menghina ayat-ayat Allah dan bergaul dengan para zindiq. Padahal dia orang yang menghafal kitab At Tanbih, dan bacaan al qur’annya sangat bagus (al Bidayah wa an Nihayah : 14/ 122 )

Berkata Al Qadhi Iyadh : “ Para ulama Malikiyah yang berada di Bagdad pada zaman khalifah al Muqtadir telah sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati kepada al Halaj, kemudian menyalibnya, hal itu karena dia menganggap dirinya Allah dan menyakini Aqidah al Hulul, serta menyatakan bahwa dirinya ((#F� �D-B, padahal al Halaj secara lahir, dia menjalankan syare’at. Al Halaj ini taubatnya tidak diterima ( di dunia ) “ (Asy Syifa’ : 2/1091 )

4. Ghozwul Fikri.

Munculnya pemikiran-pemikiran sesat seperti liberalisme, pluralisme dan sekulerisme telah mendorong terjadi gelombang kemurtadan di kalangan kaum Muslimin, karena paham-paham tersebut mengajarkan bahwa semua agama sama, dan semua orang bebas melakukan perbuatan apapun juga, tanpa takut dosa. Wallahu A’lam

Penulis adalah doktor bidang fikih, Universitas Al-Azhar, Mesir



Dikirim pada 28 April 2011 di Pencinta Allah


Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah -Subhanahu wa taala- kepada Rasul-Nya yang terakhir Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- (QS. 48: 28;33:40) sebagai rahmat bagi semesta alam (QS 21:107) dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah -Subhanahu wa taala- (QS 3:19; 5:3). Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber dan pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ia termasuk Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah, dan yang keluar daripadanya maka ia termasuk firqah-firqah yang halikah.

Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda. Dalam tesisnya yang berjudul “Pemikiran Politik Barat” Ahmad Suhelani, MA menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama, prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio – Kultural dan Politik Masyarakat. (Gado-Gado Islam Liberal; Sabili no 15 Thn IX/81)

Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bertemu, namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya, Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haqq tetapi pada hekikatnya suara mereka itu adalah bathi,l karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-. Tetapi bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam-.

Maka dalam makalah ini akan kita uraikan sanad firqah liberal, visi, misi agenda jIL, bahaya mereka terhadap akidah umat, pembentengan dan solusinya. insyaallah. .

SANAD FIRQAH LIBERAL

Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Qur`an dan sunnah. Pada saat itu muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.

Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873) memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani (Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam. (Charless Kurzman: xx-xxiii)

Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-1890) yang membujuk kaum muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada tahun 1877 ia membuka suatu kolese yang kemudian menjadi Universitas Aligarh (1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The Spirit of Islam berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di Inggris pada masa Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- adalah Pelopor Agung Rasionalisme. (William Montgomery Watt: 132)

Di Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari pengaruh salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan pelopor emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali Abd. Raziq (1888-1966) yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam tidak memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatakan bahwa yang dikehendaki oleh al-Qur`an hanyalah sistem demokrasi tidak yang lain.(Charless: xxi,18)

Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis. Ia menggagas tafsir al-qur`an model baru yang didasarkan pada berbagai disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya ia ingin menelaah Islam berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin mempersatukan keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran diluar Islam. (Mu’adz, Muhammad Arkoun Anggitan tentang cara-cara tafsir al-Qur`an, Jurnal Salam vol. 3 No. 1/2000 hal 100-111; Abd Rahman al-Zunaidi: 180; Willian M. Watt: 143)

Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual, satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan al-Qur`an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang dituju oleh al-Qur`an adalah ideal moralnya, karena itu ia yang lebih pantas untuk diterapkan. (Fazhul Rahman: 21; William M. Watt: 142-143)

Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton; Sabili no. 15: 88). Nurcholis Madjis telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun 1970-an. Pada saat itu ia telah menyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini, dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama.” (Nurcholis Madjis: 239)

Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang mengusung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok dengan pikirannya.

Demikian sanad Islam Liberal menurut Hamilton Gibb, William Montgomery Watt, Charless Kurzman dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita urut maka pokok pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang rasionalis dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis la’natulllah ‘alaih. (Ali Ibn Abi al-‘Izz: 395) karena itu JIL bisa diplesetkan dengan “Jalan Iblis Laknat”. Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar What The Caesar’s and to the God What the God’s (Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada kaisar dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada hak Tuhan). (Muhammad Imarah: 45) Karena itu ada yang mengatakan: “Cak Nur Cuma meminjam pendekatan Kristen yang membidani lahirnya peradaban Barat.”

Sedangkan paham pluralisme yang mereka agungkan bersambung sanadnya kepada Ibn Arabi (468-543 H) yang merekomendasikan keimanan Fir’aun dan mengunggulkannya atas nabi Musa -Alahi salam- (Muhammad Fahd Syaqfah: 229-230). Atau lebih tua dari pada itu; yaitu kembali kepada kaum jahiliyyah musyrik yang thawaf dengan telanjang (Lihat Mahmud syukri al-Alusi, Mewaspadai 100 perilaku Jahiliyyah, terjemahan Agus Hasan Bashori, Elba Surabaya, 2005, h.109, masalah ke-27; Shaleh al-Fauzan, Syarah Masail al-Jahiliyyah, masalah nomor 35). Allah -Subhanahu wa taala- menegur mereka atas perbuatannya yang keji itu, namun apa jawaban mereka? Allah berfirman:

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji[1], mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya……" (QS.al-A’raf: 28).
Jadi argumentasi orang jahiliyyah untuk melegitimasi perbuatan keji tersebut ada dua lapis yaitu:

Pertama: tradisi nenek moyang yang sudah didapati secara turun temurun. Hal ini dikenal oleh orang liberal dengan istilah ‘Realitas sosial’. Dengan demikian orang musyrik jahiliyyah dan JIL sama-sama mengukur kebenaran dengan realitas. Oleh karena itu karena pluralitas agama adalah sebuah realitas yang tidak bisa ‘dielakkan’ maka semuanya harus diterima, dan semuanya sama saja. Inilah hakekat paham pluralisme itu.

Kedua: ‘fiqih nafsu , pemikiran liar atau nalar jahili. Mereka mengatakan dengan lantang bahwa perbutan keji itu justru telah diperintahkan oleh Allah –Subhanahu wa taala-. Prinsip ini dikenal dan diamalkan oleh orang liberal dengan istilah rasionalitas, liberalitas dalam bersuara dan berpendapat, hermeneutic, analisa kritis dan lain sebagainya, yaqng diantara produknya adalah Fiqih Lintas Agama yang mirip dengan fiqih musyrik jahiliyyah.( Lihat bantahan kami: Koreksi Total Buku Fiqih Lintas Agama, Pustaka al-Kautsar, 2004)

Maka Allah membantah kedustaan dan kebodohan mereka itu dengan mengatakan:
Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS.al-A’raf: 28).

MISI FIRQAH LIBERAL

Misi Firqah Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya: merusak membusukkan dan menghancurkan) gerakan dakwah islam yang mereka anggap fundamentalis (www.islam lib.com). mereka menulis: “… … sudah tentu., jika tidak ada upaya-upaya untuk mencegah dominannya pendangan keagamaan yang militan itu, boleh jadi, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militan ini bisa menjadi dominan. Hal ini jika benar terjadi, akan mempunyai akibat buruk buat usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia. Sebab pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok-kelompok agama yang ada. Sebut saja antara islam dan Kristen. Pandangan-pandangan kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.”

Yang dimaksud dengan islam fundamentalis yang menjadi lawan firqah liberal adalah orang yang memiliki lima cirri-ciri; yaitu (1) mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat, (2) mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan membangkitkan kembali masa lalu itu (3) mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam (4) mereka yang mempropagandakan bahwa islam adalah agama dan negara, (5) mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa depan.

Demikian yang dilontarkan mantan Presiden Amreika Serikat, Richard Nixon (Muhammad Imarah: 75)

AGENDA DAN GAGASAN FIRQAH LIBERAL

Dalam tulisan berjudul “Empat Agenda Islam Yang Membebaskan; Luthfi Asy-Syaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal. Pertama, agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan dunia, sistem kerajaan dan parlementer (demokrasi) sama saja. Kedua, mengangkat kehidupan antara agama. Menurutnya perlu pencarian teologi pluralisme mengingat semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di negeri-negeri Islam. Ketiga, emansipasi wanita dan keempat kebebasan berpendapat (secara mutlak).

Sementara dari sumber lain kita dapatkan empat agenda mereka adalah (1) pentinganya konstekstualisasi ijtihad (2) komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan (3) penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama (4) pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara (lihat Greg Berton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pustaka Antara Paramadina 1999: XXI)

BAHAYA FIRQAH LIBERAL TERHADAP AKIDAH UMAT

Dari uraian singkat di atas kita sudah dapat merasakan betapa besar bahaya paham liberal dalam islam dan orang-orangnya yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal.
1). Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah –Subhanahu wa taala-, tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan para Thaghut lainnya. Oleh karena yang paling diuntungkan oleh gerakan orang-orang liberal adalah orang-orang non muslim yang ingkar al-Qur’an dan Nabi Muhammad –Shalallahu alaihi wa salam- juga aliran-aliran sesat dan ahli maksiat-, dan yang paling dirugikan adalah umat islam.( Lihat: PembaharuanIslam Di Indonesia: Pandangan Kristen, Martin Lukito Sinaga, islib.com, kolom,3/4/2006).

Bahkan demi membela orang-orang yang amoral sampai salah seorang tokoh liberal berani melecehkan al-Qur’anul Karim- Na’udzu billah minal khudzlan- dengan mengatakan: “Kitab suci yang paling porno di dunia adalah al-Qur’an.” (lihat misalnya: ali.otda.blogdrive.com, atau yang lain

2). Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar keimanan karena itu mereka benci kata-kata jihad, sunnah, salaf, dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, ulama, Al-Qur’an yang Mulia dan lain-lainnya dan mereka rela menyebut dirinya dengan istilah Islam Liberal, Islam Emansipatoris, inklusif pluralis dan lain sebagainya Allah -Subhanahu wa taala- berfirman:
بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ اْلإِيْمَانِ (الحجرات : (11)

3). Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur`an dan meragukan kemudian menolak sebagian yang lain. Supaya penolakan mereka terkesan sopan dan ilmiah mereka menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri al-Qur`an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal.

Sebagai contoh, Musthofa Mahmud dalam kitabnya al-Tafisr al-Ashri li al-Qur`an menafsiri ayat [فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا] dengan “maka putuslah usaha mencuri mereka dengan memberi santunan dan mencukupi kebutuhannya.” (Syeikh Mansyhur Hasan Salman, di Surabaya, Senin 4 Muharram 1423)

Dan tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka pantaslah mengapa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:
(( أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلىَ أُمَّتِيْ مُنَافِقٌ عَلِيْمٌ اللِّسَانُ يُجَادِلُ بِالْقُرْآنِ ))
“Sesuatu yang paling aku takutkan atas umatku adalah seorang munafiq yang pandai bersilat lidah, mendebat dengan al-Qur’an.” (HR. Ahmad 15133, dengan sanad kuat, menurut syekh Syueb al-Arnauth)

Orang-orang seperti inilah yang merusak agama ini. Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

(( هَلاَكُ أُمَّتِيْ فِي الْكِتَابِ وَالَّلبْنِ )) فَقِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ , وَمَا الْكِتَابُ وَاللَّبْنُ ؟ قَالَ : (( يَتَعَلَّمُوْنَ الْقُرْآنَ وَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلىَ غَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ وَيُحِبُّوْنَ اللَّبْنَ وَيَدَعُوْنَ الْجَمَاعَاتِ وَالْجُمَعَ وَيُبْدُوْنَ ))
“Kehancuran ummatku ada pada al-Qur’an dan susu.” Ditanyakan : “Ya Rasuallah, apa (yang dimaksud dengan) al-Qur’an dan susu itu?” Beliau bersabda: “ Mereka mempelajari al-Qur’an dan menafsirinya berbeda dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Dan mereka menyukai susu[2], meninggalkan shalat berjamah dan jum’at, dan mereka tinggal di pedalaman[3]” (HR. Ahmad, 17451, Syueb al-Arnauth berkata: “Kedua sanadnya hasan.”

Mereka mengklaim diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal merekalah perusak Islam, mereka mengaku mangajak kepada al-Qur`an padahal merekalah yang mencampakkan al-Qur`an. Mengapa demikian? Karena mereka bodoh terhadap sunnah. Ibn Mas’ud t berkata: »سَتَجِدُوْنَ قَوْمًا يَدْعُوْنَكُمْ إِلىَ كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّع وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّع وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْق«
“Kamu akan mendapati satu kaum yang mengajakmu kepada Kitabullah, padahal mereka telah mencampakkannya dibalik punggung mereka. Maka kamu wajib berpegang dengan ilmu, dan jauhilah sikap sikap mengada-ada, memaksa-maksa, dan kamu wajib mengikuti yang salaf.”(Lihat Ahamd Ibn Umar al-Mahmashani, Mukhtashar Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 388-389)

4). Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang ada dalam Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya barat, maka mereka melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat. Islam yang murni bagi mereka adalah belenggu, sedang para ulama adalah ‘teroris’ yang mengancan kepentingan mereka.

5). Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, para sahabatnya y dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi mereka pemahaman yang hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks normative agama ( al-Qur’an dan Sunnah) serta pada bentuk-bentuk Formalisme Sejarah Islam paling awal ( salafus shaleh) adalah kurang memadai dan agama ini akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif. (Syamsul Arifin; Menakar Otentitas Islam Liberal, Jawa Pos 1-2-2002). Mereka lupa bahwa sikap seperti inilah yang diancam oleh Allah: ] وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا [ (النساء : 115)

6). Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri atau kepada guru besar mereka dari para orientalis atau missionaris, sebab mereka mengaku sebagai “pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo modernis. Allah berfirman:
] وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ ! أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَيَشْعُرُوْنَ ! وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ ءَامِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَآءُ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَآءُ وَلَكِنْ لاَيَعْلَمُوْنَ [ (البقرة : 11-13)

7). Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu menjadikan Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L. Esposito menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh negara-negara Islam tampil seperti Turki. Artinya bisa saja menjadi antek dan mata-mata bagi Negara penjajah tersebut dengan menjual umat, Negara dan agama ini kepada mereka, sebagaiman layaknya orang munafiq.

8). Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti memcah belah. Disaming mereka adalah para profokator yang menghasut untuk memusuhi apa yang mereka sebut sebagai Islam Fundamentaklis, inklusif dan militan.

9). Mereka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang cukup, serta dukungan dari Negara-negara donor yang maju yang berwatak penjajah, seperti Amerika dan Israel. Misalnya contoh kecil adalah Gunawan Muhammad bos JIL mendapatkan penghargaan dari Israel dan hadiah 2 M karena selama 40 tahun berjasa dalam menyebarkan paham menyimpang di negri muslim terbesar dunia ini. (Replubika, 26/4/2006 h. 3. Sms dari pak Hartono ahmad Jaiz, 26/4/2006, 20:55:15; Harian Surya….)

10). Mereka tidak memiliki manhaj yang jelas dan baku serta tidak bisa diam, padahal diam mereka adalah emas., memang begitu berat jihad menahan lisan. Tidak akan mampu melakukannya kecuali seorang yang mukmin. (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ )) البخارى ومسلم
(Lihat Husain al-Uwaisyah: 9 dan seterusnya)

Sementara itu Ustadz Hartono Ahamd Jaiz menyebut mereka berbahaya sebab mereka itu “sederhana” tidak memiliki landasan keilmuwan yang kuat dan tidak memiliki aqidah yang mapan. (lihat Bahaya Islam Liberal: 40, 64-65)

Ringkasnya: jika umat terpengaruh oleh pikiran JIL maka agama akan rusak, moral akan bejat, dan mati dalam kondisi murtad, sebab mereka meyakini:
Semua agama sama. Islam tidak beda dengan agama kufur dan syirik manapun, semuanya masuk surga.
Semua orang beragama adalah mukmin, oleh karena itu semua bersaudara dan halal saling menikahi.
Meyakini Islam satu-satunya agama yang benar tidak boleh. Oleh karena itu dakwah islamiyahpun tidak boleh. Wajib diganti dengan dialog, tukar menukar pengalaman dan kerja sama dalam bidang social keagamaan.
Al-Qur’an adalah produk budaya, tidak suci dan tidak berada di atas manusia.
Tidak ada yang namanya hukum Tuhan di bidang public dan dunia. Hukum Tuhan hanya dalam ibadah.
Nabi Muhammad hanyalah tokoh histories yang juga memiliki kelemahan-kelemahan, dan sunnahnya tidak mengikat umat.
dll.
PEMBENTENGAN

Untuk membentengi umat dari virus liberal yang membinasakan ini dipelukan pembentengan dalam dua lapis.

Pertama: Upaya pribadi

1. Menjauhi syubhat-syubhat orang liberal sedapat mungkin.

Rasulullah Salallohu alaihi wasallam bersabda:

" مَنْ سَمِعَ باِلدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَ اللهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيْهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ "
“Barang siapa mendengar tentang Dajjal maka menjauhlah (beliau mengucapkannnya 3x). Demi Allah ada seorang yang mendatanginya dengan anggapan bahwa dia adalah mukmin( dalam riwayat: benar) lalu ia mengikutinya karena syubhat-syubhat yang ia lontarkan.” ( HR.Ahmad, 19888, 19982;Hakim 8615; Abu Dawud, 2/519 dari Imran ibn Hushen, dishahihkan syekh Albani, )

2. Ketika mendengarnya atau membacanya segera membacva ta’awwudz

3. Menolak syubhat itu dengan iman dan keyakinan yang kuat. Iman adalah benteng yang terkuat dari segala macam syubhat.
Dasar dari semua ini adalah hadis Abu Hurairah –Radiallahu anhu- Rasulullah bersabda: “ Akan dating setan itu kepada salah seorang kalian lalu bertanya: Siapakah yang menciptakan ini?, siapakah yang menciptalkan itu? Hingga ia bertanya siapakah yang mencitakan Allah?. Maka apabila sampaqi pada tingkat itu maka beristi’adzahlah kepada Allah, dan berhentilah.” Dalam satu lafahz: makaucapkanlah: Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari,6866; Muslim, 135, 212, 215; Abu Dawud, 4721, Ahmad, 8192, 8358 dll. lihat Syarahnya as-Sa’di, Bahjatu Qulubil AbrarWa Qurratu Uyunil Akhyar, hadis nomor 8, h.17-19.)

4. Menolak syubhat tersebut dengan ilmu yang benar, melalui bantuan ahli ilmu. Oleh karena itu setiap muslim wajib berguru kepada ahlu sunnah. Dengan ilmu maka syubhat-syubhat akan sirna; misalnya pada 17 April 2007 Mentri Agama Maftuh Basyuni didemo oleh sekelompok orang yang menamakan diri Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Kepada Menag mereka menuntu-antara lain- agar dalam waktu sesingkat-singkatnya mencabut pernyataan Menag yang menetapkan dan menyatakan bahwa Ahmadiyyah adalah suatu ajaran yang sesat menyesatkan. Dengan mudah kita bisa membantah mereka bahwa “dengan argumentasi yang sama mestinya kalaian harus menghormati agamanya Menag, MUI dan umat Islam, jadi kalian tidak perlu demo., sebab itu berarti memaksakan kehendak pada orang lain dan memaksa orang lain untuk menanggalkan agamanya.”( baca, Adian Husaini, Memaknai Kebebasan Beragama.” Begitu pula orang yang mengaku pluralis tetapi memusuhi kelompok muslim yang dianggap eksklusif berarti mereka sendiri yang eksklusif dan radikal. Begitu seterusnya.

5. Melindungi keluarga dari virus liberal, kalau perlu seorang suami harus ‘mengikat’ anak perempuan dan istrinya di rumah agar tidak terpengaruh, seperti pada kasus Dajjal.

Kedua: Upaya Payung Hukum; berupa fatwa atau kepetusan muktamirin pada setiap jam’iyyah. Alhamdulillah hal ini telah terealisir dengan:
Sikap para kiyahi dan para ulama nahdiyyin di Muktamar Boyolali yang menolak JIL, dan tuntutan mereka agar paham liberal tidak disebarkan di tubuh NU.(Baca misalnya Jawa Pos, Minggu 28 Nopember 2004, h.11)
Sikap para tokoh Muhammadiyyah di Muktamar Malang yang menolak dan melibas tokoh-tokoh liberal di tubuh Muhammadiyyah.( Baca buku PEMIKIRAN MUHAMMADIYAH RESPON TERHADAP LIBERALISASI ISLAM, Terbitan Muhaammadiyah University Press, 2005).
Fatwa MUI Daerah Jawa Timur tertanggal 2/3/1425-22/5/2004
Fatwa MUI Pusat, dalam Munasnya yang ke-7 pada 25-29 Juli di Jakarta, yang telah menetapkan 11 fatwa.( baca selengkapnya Adian Husaini, Pluralisme Agama Haram, Pustaka al-Kautsar).
dll
SOLUSI

Pertama: Upaya Dakwah

Dakwah islamiyah Salafiyyah adalah penawar dari segala racun, obat dari segala penyakit dan senjata ampuh untuk melawan segala musuh.. Ia adalah solusi yang substansial dan total meskipun diperlukan waktu yang tidak singkat. Ambil contoh, bagaimana bangsa penjajah Tatar yang perkasa dan kejam itu tunduk dan takluk dengan dakwah, sehingga mereka berubah menjadi kerajaan Islam.( Baca Abul Hasan An-Nadwi, Rabbaniyyah La Rahbaniyyah, Dar Ibn Katsir, Damaskus 1423, h.22-24.

Kedua : Upaya Hukum


Mengajukan para penebar virus liberal yang merusak bangsa dan agama itu ke pengadilan (jika memang ada pengadilan dan keadilan), untuk menerima hukuman.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, mari kita bersama berjuang untuk membela kebenaran; agama Allah. Allah berfirman:
] وَالَّذِيْنَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍج إِلاَّ تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ [ (الأنفال: 73)

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang Telah diperintahkan Allah itu,[4]niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” . al-Anfal:73)

Disampaikan di masjid Salman ITB,

7/4/1427 - 5/6/2006

MARAJI’

Arifin, Syamsul, Menakar Otentisitas Islam Liberal, Jawa Pos, 1-2-2002
Al-Hanafi, Ali Ibn Abi al-Izz, Tahzdib Syarh at-Thahawiyah, Dar al-Shadaqah, Beirut, cet I 1995
Al-Mahmashani, Ahmad Ibn Umar, Mukhtashar Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi, Tahqiq: Hasan Ismail, Dar al-Khair, Beirut cet. I 1994
Al-‘Uwaisyah, Hasan, Hashaid al-Alsum, Dar al-Hijrahl-Alusi, Mahmud Syukri, Mewaspadai 100 Perilaku Jahiliyyah, Elba Surabaya, 2005
As-Sa’di, Abdurr4ahman, Bahjatu Qulubil AbrarWa Qurratu Uyunil Akhyar, hadis nomor 8, h.17-19.)
Bashori, Agus Hasan, Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur’an, Pustaka as-Sunnah Surabaya, 2003, h.197-204.
_________________, Koreksi Total Buku Fiqih Lintas Agama, Pustaka al-Kautsar, 2004.
CD al-Maktabah asy-Syamilah
Husaini, Adnan, Islam Liberal dan Misinya, Makalah diskusi di Pesantren Tinggi Husnayain Jakarta 8 Januari 2002.
_________________, Pluralisme Agama Haram, Pustaka al-Kautsar, 2005.
Hidayat, Syamsul dan Sudarno Shobron, Pemikiran Muhammadiyah Respon Terhadap Liberalisasi Islam, Terbitan Muhaammadiyah University Press, 2005
Imarah, Muhammad, Perang Terminologi Islam Versus Barat, terjemahan Musthalah Maufur, Rabbani Press, Jakarta 1998.
Jaiz, Hartono Ahmad, Bahaya Islam Liberal, Pustaka al-Kautsar cet II, 2002.
Kurzman, Charless, Wacana Islam Liberal, Paramadina Jakarta 2001.
Majid, Nurcholis, Islam Kerakyatan dan Ke Indonesiaan, Mizan, Bandung cet III/ 1996.
Mu’adz, Muhammad Arkoum Anggitan Tentang Cara-Cara (Tafsir) al-Qur`an, Jurnal SALAM UMM, Malang vol. 3. No. 1/2000.
Ridwan, Nurcholis, Gado-Gado Islam Liberal, Majalah Sabili, No. 15 tahun IX 25 Januari 2002.
Rahman, Fazlur, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam, Terjemahan Taufik Adnan, Mizan, Bandung 1987.
Syaqfah, M. Fahd, Al-Tashawwuf Baina al-Haqqi wa al-Khalq, Dar al-Salafiyah cet III 1983.
Watt, William M, Fundamentalisme Islam dan Modernitas, Terjemahan Taufiq Adnan, Raja Grafindo Persada Jakarta, cet I 1997
Zunaidi, Abd Rahman, Al-Salafiyah wa Qadhaya al-Ashr, Dar Isbiliya, Riyadh cet I 1998
[1] Seperti: syirik, thawaf telanjang di sekeliling kabah dan sebagainya
[2] Simbol harta dunia; mereka menyusu kepada Negara Kafir yang dapat memberi susu.
[3] Demikian ditafsiri dalam kitab Majma’ az-Zawaid 2/424 nomor 3181; Kanzul ummal 1/1011. Orang-orang desa itu gagap modernitas, mudah menghamba pada pemikiran sekuler dan orang-orang yang memberinya materi.
[4] yang dimaksud dengan apa yang Telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.

Dikirim pada 14 Oktober 2010 di Pencinta Allah


HUKUM MENONTON FILM DI BIOSKOP

Tanya :

Ustadz, apa hukumnya nonton film di bioskop? Bolehkah nonton film 2012?

Jawab :

Boleh hukumnya menonton film, dengan syarat wajib infishal, yaitu penonton laki-laki dan perempuan terpisah. Jika penonton laki-laki dan perempuan bercampur aduk (ikhtilath) hukumnya haram. (Atha` Abu Rasytah, Ajwibah As’ilah 10 Oktober 2006, hlm. 3).
Dalil kebolehannya ialah dalil-dalil umum yang membolehkan perbuatan melihat (nazhar) secara umum. Misal firman Allah SWT (artinya),"Katakanlah,’Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi." (QS Yunus [10] : 101). Juga firman-Nya (artinya),"Katakanlah,’Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati." (QS Al-Mulk [67] : 23).
Ayat-ayat ini menunjukkan perbuatan melihat (nazhar) hukum asalnya boleh, kecuali jika ada dalil yang mengharamkan melihat sesuatu, misal melihat aurat. Perbuatan melihat ini disebut perbuatan jibiliyyah, yakni perbuatan yang secara fitrah dilakukan manusia sejak penciptaannya, seperti berdiri, berjalan, tidur, makan, minum, melihat, dan mendengar. (Al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, I/173; Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hlm. 260).
Adapun syarat infishal, didasarkan pada sejumlah dalil. Di antaranya : Pertama, Nabi SAW telah menetapkan ketika shalat shaf laki-laki di depan sedang shaf perempuan di belakang. (HR Bukhari dari Anas). Kedua, pada masa Nabi SAW jika selesai shalat, jamaah perempuan keluar dari masjid lebih dulu, setelah itu jamaah laki-laki. (HR Bukhari dari Ummu Salamah). Ketiga, Nabi SAW memberi pengajaran kepada laki-laki dan perempuan pada hari yang berbeda. (HR Bukhari dari Abu Said Al-Khudri).
Dalil-dalil ini menunjukkan laki-laki dan perempuan pada asalnya wajib terpisah. Kecuali pada kondisi-kondisi tertentu yang dibolehkan oleh syara’, misalnya beribadah haji, berjual-beli, ijarah (sewa menyewa), belajar, berobat, merawat orang sakit, menjalankan bisnis pertanian, industri, dan yang semisalnya. (An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’i fi al-Islam, hal. 37; An-Nabhani, Muqaddimah Ad-Dustur, hlm. 321; Abu Nashr Al-Imam, Al-Ikhtilath Ashl Al-Syarr, hlm. 39).
Maka, kelompok penonton laki-laki dan perempuan di bioskop wajib terpisah, sebab keterpisahan ini merupakan prinsip asal dalam pengaturan interaksi antara laki-laki dan perempuan.
Mengenai film 2012, ia menggambarkan Kiamat akan terjadi tahun 2012. Ini bertentangan dengan Aqidah Islam, yang menegaskan tak ada siapapun pun yang tahu kapan terjadinya Kiamat, kecuali Allah itu sendiri. (QS Al-A’raf [7] : 187; QS Thaha [20] : 15).
Maka dari itu, meskipun hukum asal menonton film itu boleh, namun menonton film 2012 tidak dibolehkan khususnya bagi mereka yang belum kuat./mantap keimanannya, seperti anak-anak atau muallaf. Sebab film tersebut dapat membahayakan Aqidah mereka. Sedang bagi mereka yang sudah kuat keimanannya, hukumnya boleh. Kaidah fiqih menyebutkan : Al-Syai’u al-mubah idza awshala fardun min afradihi ila dhararin, hurrima dzalika al-fardu wahdahu wa baqiya al-syai’u mubahan. (Sesuatu yang asalnya mubah jika ada satu kasus di antaranya yang berbahaya, maka kasus itu saja yang diharamkan, sedangkan sesuatu itu tetap mubah hukumnya). (An-Nabhani, Muqaddimah Ad-Dustur, hlm. 89). Wallahu a’lam.

Dikirim pada 30 November 2009 di Pencinta Allah

Sadarkah kita bahwa aneka serangan al-ghazwu al-fikri (perang ideologis) secara sistematis berlangsung setiap hari merongrong keutuhan iman diri, anak dan isteri kita?

Khutbah Idul Fitri 1430 H : Memelihara Iman Keluarga di Akhir Zaman Saat Fitnah Memuncak
oleh: Muhammad Ihsan Tandjung, Doha - Qatar 1 Syawwal 1430 H / 20 September 2009
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا
لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون
لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده لآإله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا فأصبحنا بنعمته إخوانا
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله
ولو كره المشركون
أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
اللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنوده
و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
فقال الله تعالى في كتابه الكريم:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾ الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak ni’mat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Terutama marilah kita ber-terimakasih kepada-Nya atas ni’mat yang paling istimewa yang bisa diterima manusia. Tidak semua manusia mendapatkannya, alhamdulillah kita termasuk yang mendapatkannya. Itulah ni’mat iman dan Islam, yang dengannya hidup kita menjadi jelas, terarah, terang, benar dan berma’na serta selamat di dunia maupun akhirat.
Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat sehat-wal’aafiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu ta’ala. Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit sanggup bersabar menghadapi penderitaannya…bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan. Amien, amien ya rabbal ‘aalamien.
Selanjutnya khotib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar Dia melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan melalui ucapan sholawat dan salam-sejahtera kita kepada manusia pilihan yang mengajarkan kita hakikat iman dan islam… imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah swt, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah swt layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,
Sadarkah kita bahwa salah satu perkara penting yang sering diabaikan oleh ummat Islam dewasa ini ialah betapa terancamnya eksistensi iman keluarga-keluarga kita? Sadarkah kita bahwa aneka serangan al-ghazwu al-fikri (perang ideologis) secara sistematis berlangsung setiap hari merongrong keutuhan iman diri, anak dan isteri kita? Kian hari kian terasa betapa zaman yang sedang kita jalani dewasa ini merupakan potongan zaman yang sarat dengan fitnah. Inilah zaman yang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang berbunyi:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud)
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Penyakit Al-Wahan alias ”Cinta dunia dan takut akan kematian” cukup hebat mendominasi keluarga-keluarga Islam dewasa ini. Penyakit ini muncul dikarenakan hebatnya pengaruh pemimpin dunia global dewasa ini yang terdiri dari kaum kuffar yang tidak faham apapun soal perkara kehidupan akhirat. Mereka memang sangat canggih dalam menguasai berbagai lini kehidupan menyangkut urusan lahiriah-materialistik kehidupan duniawi. Namun soal kehidupan sebenarnya di akhirat kelak mereka sangatlah lalai dan tidak peduli bahkan tidak mempercayainya. Dunia dewasa ini secara global sedang dikendalikan oleh bangsa Ruum (Romawi) alias Barat Eropa-Amerika. Dan Allah menggambarkan peradaban Romawi di dalam surah Ar-Ruum sebagai berikut:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS Ar-Ruum ayat 7)
Para pemimpin global bangsa Romawi Modern ini dengan gencar, sistematis dan penuh kesungguhan berusaha keras mensosialisasikan faham materialisme dan sekularisme yang menjadi falsafah hidup mereka kepada segenap penduduk planet bumi. Tanpa kecuali ummat Islam di dalamnya. Dengan segenap sarana dan prasarana yang dimiliki mereka berusaha menjadikan setiap orang yakin bahwa hanya dengan menimbun materi-lah kebahagiaan bakal diperoleh. Hanya dengan memisahkan urusan dunia dari nilai-nilai agama atau keimanan-lah manusia akan mencapai kebebasan sejati.
Artinya, mereka berusaha menularkan nilai-nilai kekufuran yang ada dalam diri mereka kepada siapa saja, termasuk kita yang asalnya sudah beriman. Sehingga tidak sedikit kaum muslimin di berbagai belahan dunia mulai mengekor kepada pandangan hidup kaum kuffar pemimpin global dunia dewasa ini. Allah SWT bahkan me-warning kita bahwa kesungguhan mereka berusaha memurtadkan orang-orang beriman mencapai derajat jiwa atau spirit perang.
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
”Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS Al-Baqarah ayat 217)
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Para pemimpin global bangsa Romawi Modern alias Barat Eropa-Amerika dikomandani oleh pemimpin Blok Tunggal Barat yang memimpin dunia dari istananya di Bait Al-Abyadh (Gedung Putih). Inilah pusat komando penyebarluasan ideologi hubbud-dunya (cinta dunia) dengan faham materialisme, pluralisme, sekularisme dan liberalisme-nya.
Namun kita perlu menyadari bahwa ini bukanlah pemimpin sejati dunia dewasa ini. Ini hanyalah pemimpin formal di depan layar. Kita semua faham bahwa behind the screen (di belakang layar) sesungguhnya pemimpin Bait Al-Abyadh dikendalikan dan diarahkan oleh kekuatan Lobby Yahudi. Bangsa Yahudi inilah yang pada hakikatnya dewasa ini sedang mengatur dunia dengan menjadikan pemimpin Bait Al-Abyadh sebagai remote controlled puppet leader (pemimpin boneka yang diatur dengan remote control). Sedangkan Allah secara jelas-tegas memperingatkan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam dan kita ummat Islam siapa sesungguhnya kaum Yahudi ini:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
”Sesungguhnya kamu (Muhammad) dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al-Maidah ayat 82)
Bisa anda bayangkan bagaimana suatu kaum yang paling keras permusuhannya kepada kita orang-orang beriman akan bertingkah laku bilamana ia memiliki kontrol atas segenap lini kehidupan. Baik itu ideologi, politik, ekonomi, perdagangan, keuangan, sosial, budaya, pendidikan, mass-media, hukum, militer dan pertahanan keamanan semuanya berada di bawah pengaruh dan kendali kaum Yahudi dewasa ini.
Tentu dengan semua hal itu kaum Yahudi pasti akan berupaya mengekspresikan permusuhannya kepada kita ummat Islam. Sehingga, masihkah kita perlu heran bilamana label teroris seringkali dialamatkan kepada saudara-saudara muslim kita, bahkan kepada para pejuang ikhlas dan mujahidin fi sabilillah yang bercita-cita menegakkan ’izzul Islam wal Muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin)? Masihkah kita perlu bingung mengapa para ahli maksiat seperti kalangan selebritis dan bintang Hollywood justru dipromosikan menjadi role model dan idola generasi muda kita? Masihkah kita perlu kaget bila media-massa mengasosiasikan orang berjenggot, wanita ber-niqob (cadar), pemuda bercelana anti isbal (di atas mata kaki), para alumni pesantren sebagai tersangka pertama aksi teror?
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,
Sudah tiba masanya bagi ummat Islam untuk menyadari bahwa potongan zaman yang kita sedang jalani dewasa ini merupakan potongan zaman yang sarat dengan fitnah. Bahkan fitnah demi fitnah akan semakin menghebat seiring dengan semakin dekatnya waktu puncak fitnah keluar, yaitu fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Oleh karenanya Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ
أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا
وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ
Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan di hadapan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam Kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tidak ada orang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula dari fitnah (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali dalam rangka menyongsong fitnah Dajjal.”(HR Ahmad)
Ahmad Thompson, seorang penulis Muslim berkebangsaan Inggris, bahkan menyebut dunia kita sejak kurang lebih seratus tahun belakangan ini merupakan sebuah Sistem Dajjal atau “sistem kafir”.
Ia berpendapat, kondisi dunia kini sangat bertentangan dengan sistem kenabian. Berbagai lini kehidupan modern didominasi dajjalic values (nilai-nilai dajjal), bukan prophetic values (nilai-nilai kenabian). Sehingga di dalam bukunya itu ia bedah satu per satu lini kehidupan modern yang sudah sangat jauh dari nilai keimanan dan sarat nilai kekufuran. Peradaban dunia modern sedang dipersiapkan menjadi Sistem Dajjal untuk menyambut kemunculan sang oknum bermata satu alias Dajjal yang bakal langsung dinobatkan menjadi the Global Leader ketika ia akhirnya muncul ke tengah ummat manusia.
Ketika Dajjal kelak muncul, maka ia akan mengajak manusia untuk mengimani dirinya sebagai tuhan dan meninggalkan iman kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Maka dalam rangka mengantisipasi kemunculan puncak fitnah tersebut setiap Muslim-Mu’min wajib memelihara eksistensi iman di dalam keluarga-keluarga masing-masing. Dan hal tersebut seyogyanya diupayakan sejak dini mengingat bahwa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memperingatkan kita dengan sabda beliau ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tidak ada orang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula dari fitnah (Dajjal).”
Janganlah kita berfikir bahwa upaya memelihara iman baru akan dilakukan bila Dajjal telah hadir. Tidak saudaraku! Kita mestilah memelihara iman keluarga sejak rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal muncul. Bilamana kita menunggu hadirnya Dajjal barulah upaya tersebut dilakukan, maka jangan-jangan kita sudah terlambat. Sebab ketika Dajjal muncul ia akan diizinkan Allah menggunakan berbagai tipu-daya dan sihir untuk menyesatkan manusia.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,
Marilah kita jalankan beberapa kiat yang diajarkan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk memelihara diri dan keluarga dari fitnah Dajjal:
Pertama, bacalah do’a perlindungan dari Allah di setiap penghujung sholat saat duduk tahiyyat terakhir sebelum mengucapkan salam ke kanan dan kek kiri:
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ
اللهم إني أعوذبك بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
"Ya Allah, aku berlindung kpd-Mu dari azab jahannam, & azab kubur, & fitnah kehidupan & kematian & dari jahatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal" (HR Muslim)
Kedua, menjauhi Dajjal dan tidak sekali-kali mendekatinya karena rasa ingin tahu dan penasaran:
مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ
وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ
"Barangsiapa mendengar tentang Dajjal, hendaknya ia berupaya menjauh darinya, sebab -demi Allah- sesungguhnya ada seseorang yang mendekatinya (Dajjal) sedang ia mengira bahwa Dajjal tersebut mukmin kemudian ia mengikutinya karena faktor syubhat (tipu daya) yang ditimbulkannya." (HR Abu Dawud)
Ketiga, bacalah dengan lengkap surah Al-Kahfi setiap hari Jum’at:
من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة فأدرك
الدجال لم يسلط عليه ، - أو قال : لم يضره
“Barangsiapa membaca surah Al-Kahfi di hari Jumat, maka Dajjal tidak bisa menguasainya atau memudharatkannya.” (HR Baihaqy)
Keempat, menghafalkan sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi:
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
"Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi, ia terlindungi dari fitnah Dajjal." (HR Abu Dawud)
Kelima, mengungsi ke Mekkah dan Madinah:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلَّا مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ وَلَيْسَ نَقْبٌ مِنْ أَنْقَابِهَا إِلَّا عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ صَافِّينَ تَحْرُسُهَا
"Tidak ada negeri (di dunia) melainkan akan dipijak (dilanda/diintervensi) oleh Dajjal kecuali Mekah dan Madinah kerana setiap jalan dan lereng bukit dijagai oleh barisan Malaikat." (HR Bukhari-Muslim)
Wallahu ‘alam bish-shawwaab.-
DOA
رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
"Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS 18:10)
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ
فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم ٌ
"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS 59:10)
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS 3:8)
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74)
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 3:147)
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا
حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا
وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 2:286)
رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا
بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS 3:192-194)

Dikirim pada 19 September 2009 di Pencinta Allah
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

"Seorang insan yang terombang-amabing di dalam kehidupan,..yang senantiasa mencari pegangan yaitu Ilmu dan keridhoan dari Robbnya." More About me

Page
BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 493.096 kali


connect with ABATASA